BANDA ACEH – Menyusuri Museum Tsunami Aceh bukan sekadar melihat pameran, tapi berjalan melewati rangkaian ruang yang dirancang khusus untuk menyampaikan pesan sejarah secara emosional.
Begitu masuk, pengunjung disambut lorong sempit bertekstur dinding berair dengan pencahayaan temaram. Suasana sunyi di lorong ini merepresentasikan detik-detik mencekam saat gelombang tsunami menerjang.
Dari lorong renungan, pengunjung memasuki ruang melingkar bernama "The Light of God". Di dindingnya tertulis ribuan nama korban, dihiasi kaligrafi lafaz Allah yang memancarkan cahaya syahdu.
Area ini merepresentasikan proses pemulihan masyarakat pasca-bencana. Dihiasi bendera dari berbagai negara sahabat yang mengirim bantuan kemanusiaan, lorong berputar ini menuntun pengunjung menuju lantai atas bangunan.
Di lantai paling atas, terdapat zona khusus yang dipersiapkan sebagai titik evakuasi darurat apabila terjadi bencana serupa di masa depan — sekaligus menunjukkan fungsi ganda bangunan ini sebagai monumen dan infrastruktur mitigasi.
Sebelum keluar, sempatkan mampir ke ruang pameran geologi interaktif untuk memahami ilmu kebencanaan secara lebih ilmiah — cocok buat yang datang bersama anak usia sekolah.
Menyusuri seluruh rute dari Lorong Renungan sampai Zona Evakuasi biasanya memakan waktu 45 menit sampai 1 jam, tergantung seberapa lama berhenti di tiap zona.