ACEH — Kabar mengejutkan datang dari industri pertambangan batu bara. Haji Isam, pengusaha asal Kalimantan Selatan yang dikenal melalui Jhonlin Group, dikabarkan serius mengincar mayoritas saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Nilai yang disiapkan pun fantastis, mencapai US$5,5 miliar untuk porsi kepemilikan 62,2%.
Spekulasi ini semakin panas setelah beredarnya foto pertemuan Haji Isam dengan Dato' Low Tuck Kwong, pendiri Bayan Resources. Keduanya terlihat meninjau langsung area operasional tambang di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Sabtu (15/8/2026). Momen kebersamaan dua raja batu bara ini langsung memicu spekulasi di pasar modal.
Langkah membidik Bayan bukanlah gerakan yang tiba-tiba. Jhonlin Group tengah gencar melakukan diversifikasi bisnis. Awalnya dikenal lewat PT Jhonlin Baratama yang fokus pada jasa kontraktor batu bara, kini grup tersebut telah melebarkan sayap ke logistik, pelayaran, perkebunan sawit, biodiesel, hingga mineral.
Bukti nyata ekspansi ini terlihat pada Mei 2026 lalu. Haji Isam resmi membeli 21,11% saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), sebuah perusahaan nikel, dengan nilai transaksi mencapai Rp936,65 miliar. Langkah ini menunjukkan ambisi besarnya untuk tidak hanya bergantung pada satu komoditas.
Di sisi lain, Bayan Resources memang tengah menunjukkan performa yang mengkilap. Sepanjang semester I-2026, perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar US$410,25 juta atau naik 17,46% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perusahaan juga tumbuh 7,29% menjadi US$1,74 miliar.
Dari data pemegang saham per 29 Mei 2026, Dato' Low Tuck Kwong menggenggam 40,24% saham BYAN. Sementara itu, Elaine Low memiliki 22% dan PT Sumber Suryadaya Prima memegang 10%. Jika dijumlahkan, kepemilikan Low Tuck Kwong dan Elaine Low mencapai 62,22%—angka yang nyaris sama persis dengan porsi yang disebut dalam rumor akuisisi.
Pasar pun langsung bereaksi terhadap kabar ini. Pada perdagangan Jumat (14/8/2026), harga saham BYAN melonjak tajam 19,01% ke level Rp14.400 per lembar. Lonjakan ini menjadi sinyal kuat bahwa investor menyambut positif potensi masuknya Haji Isam sebagai pengendali baru.
Meski demikian, belum ada pernyataan resmi dari kedua belah pihak mengenai kepastian transaksi ini. Yang jelas, jika akuisisi ini benar-benar terealisasi, Haji Isam akan mengendalikan salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia. Ini bukan sekadar akuisisi biasa, melainkan langkah strategis yang akan memperkokoh dominasi Jhonlin Group di peta energi nasional dan menandai babak baru persaingan industri batu bara Tanah Air.