BLANGKEJEREN — Struktur bronjong setinggi 2,5 meter dengan lebar 3 meter kini membentang di kedua sisi Sungai Aih Bobo. Pemasangan anyaman kawat berisi batu ini dirancang untuk memproteksi dinding sungai dari gerusan air, terutama saat debit air meningkat.
Site Manager Operasional Hutama Karya, Peri, menjelaskan bahwa penguatan tebing dilakukan setelah luapan sungai pada bencana sebelumnya menyebabkan kerusakan signifikan di kawasan sekitar.
“Awal kita beri tanggul tanah. Setelah itu, lanjut ke bronjong dengan lebih kurang 1 kilometer, tinggi 2,5 meter, lebar ada 3 meter, untuk memproteksi air agar dinding sungai tidak rusak,” kata Peri, Minggu (23/8/2026).
Lokasi penguatan ini dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Peri, titik-titik tersebut merupakan area yang paling parah terdampak saat bencana hidrometeorologi melanda.
“Jadi lokasi ini pas waktu bencana itu lahan pertanian rusak dan juga ada mengenai rumah warga. Jadi ini kami protek, dinding sungai ini. Itu kita menggunakan bronjong karena secara teknik itu yang lebih ideal,” ujarnya.
Penanganan di Sungai Aih Bobo bukan satu-satunya proyek rehabilitasi yang dijalankan. Pengawas Lapangan BWS Sumatera I, Fahried Wajidi, menyebutkan bahwa penanganan tanggap darurat juga dilakukan di empat titik lainnya yang tersebar di Kecamatan Rikit Gaib, Dabun Gelang, dan Putri Betung.
Secara keseluruhan, kelima titik penguatan tepian sungai tersebut telah mencapai progres fisik 99 persen. Anggaran sebesar Rp 137 miliar dari Kementerian Pekerjaan Umum dialokasikan untuk mendukung seluruh rangkaian pekerjaan ini.
“Pascabencana di setiap titik itu kita lakukan pemasangan bronjong karena ini sifatnya tanggap darurat, artinya sementara,” kata Fahried saat meninjau Sungai Aih Bobo bersama Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera (Satgas PRR), Jumat (21/8/2026).
Keberadaan struktur pelindung ini diharapkan mampu menjaga lahan pertanian produktif dan akses masyarakat dari dampak aliran sungai, terutama saat curah hujan meningkat. Dengan selesainya proyek ini, warga Gayo Lues diharapkan dapat beraktivitas dengan lebih aman tanpa ancaman erosi dan luapan sungai yang merusak.