BANDA ACEH — Deputi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berkunjung ke Universitas Syiah Kuala (USK), Kamis (3/9/2026), untuk mempertegas arah hilirisasi nilam Aceh. Pertemuan di Ruang Mini Rektor itu memunculkan komitmen baru: pengembangan nilam tidak lagi sekadar pelatihan, melainkan dibangun ekosistem bisnis yang menyambungkan petani hulu hingga industri hilir.
Rektor USK, Prof. Mirza Tabrani, mengungkapkan kampusnya kini menyiapkan satu perusahaan yang sahamnya mayoritas dimiliki USK. Badan usaha ini akan menjadi wadah semua kerja sama pengembangan nilam secara business to business (B2B), baik untuk membentuk bisnis baru maupun membangun pabrik pengolahan ke depan.
“Kolaborasi ini semua B2B, apakah nanti membuat bisnis baru atau membuat pabrik ke depannya. Ini harus sustainable. Jadi bukan hanya training saja, tetapi terus berlanjut,” jelas Mirza dalam keterangan yang diterima media.
Langkah ini, menurutnya, diambil agar pengembangan nilam tidak berhenti saat proyek selesai. “Kalau kita tidak buat bisnis hulu ke hilir, tidak akan bertahan. Jadi bagaimana kita di sini mengajak petani untuk menanam dan kita nanti menjual hasilnya,” kata Mirza.
International Labour Organization (ILO) menyatakan komitmennya mendampingi program tersebut secara berkelanjutan. Project Manager Promise II Impact ILO Jakarta, Djauhari Sitorus, menyebut kerja sama dengan USK melalui Atsiri Research Center (ARC) telah berjalan sekitar empat tahun dan menjadi bagian penting pengembangan kapasitas pelaku usaha serta masyarakat.
Dukungan yang disiapkan ILO mencakup pelatihan pengelolaan keuangan, perencanaan bisnis, kewirausahaan, hingga peningkatan kompetensi kelembagaan UMKM. Pendampingan digital turut diberikan agar pelaku usaha nilam mampu mengakses pasar lebih luas.
ILO juga berkomitmen membuka ruang koordinasi antar pemangku kepentingan lewat forum group discussion, kajian, dan diskusi kebijakan. “Dukungan diarahkan untuk menjembatani koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan kementerian atau lembaga terkait,” terang Djauhari.
Skema yang dirancang USK dan ILO menempatkan petani sebagai bagian integral rantai bisnis, bukan pemasok bahan mentah semata. Dengan adanya kepastian hilir, hasil panen nilam petani akan terserap oleh pengolahan dan pemasaran industri. Nilai tambah produk pun dinikmati lebih merata di Aceh.
Rektor Mirza menegaskan pengembangan nilam menjadi prioritas karena memberi nilai tambah bagi universitas dan masyarakat luas. Menurutnya, pendekatan hanya memberi bantuan dan pelatihan tidak menjamin keberlangsungan usaha jangka panjang.
Ke depan, koordinasi teknis antara USK dan ILO akan diperketat. Program yang digulirkan di masing-masing lokasi akan disesuaikan dengan kebutuhan petani dan pelaku usaha nilam setempat.