BYD Cetak 100.000 Mobil di Subang Hanya 26 Bulan, Wuling Butuh 5,5 Tahun: Ini Artinya buat Pasar

Penulis: Sutomo  •  Sabtu, 05 September 2026 | 02:10:01 WIB
Suasana peresmian pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026), yang menandai pencapaian produksi 100.000 unit kendaraan dalam 26 bulan.

ACEH — Pencapaian ini diumumkan bertepatan dengan peresmian pabrik di Subang pada Kamis, 3 September 2026. Angka tersebut menggabungkan wholesales BYD yang mencapai 91.966 unit sejak Juli 2024 hingga Juli 2026, ditambah kontribusi Denza, sub-merek premiumnya, yang menyumbang 7.474 unit sepanjang 2025.

Kecepatan ini kontras dengan pendahulunya. Wuling, yang memulai produksi di Cikarang, baru melewati ambang 100.000 konsumen sekitar akhir 2022—lima setengah tahun setelah operasi komersialnya dimulai. Chery yang kembali ke Indonesia pada 2022 bahkan belum mencapai setengah jalan menuju angka tersebut.

Lonjakan Penjualan: dari 15 Ribu ke 46 Ribu Unit dalam Setahun

Kurva pertumbuhan BYD di Indonesia curam. Enam bulan pertama berjualan di 2024, wholesales tercatat 15.429 unit. Angka itu melejit ke 46.711 unit sepanjang 2025, tumbuh 217,5 persen. Momentum berlanjut di 2026—periode Januari-Juli mencatat wholesales 29.826 unit, naik 81,6 persen dari periode sama tahun lalu.

Konsekuensinya terlihat di papan peringkat. Pada Juli 2026, BYD duduk di posisi tiga besar wholesales nasional dengan 6.569 unit, mengungguli Mitsubishi Motors dan Suzuki. Di sisi ritel, posisinya kelima dengan 5.240 unit, tepat di atas Honda yang hanya membukukan 3.707 unit.

Model Andalan: Atto 1 Hampir Jadi Raja Jalanan

Kontributor utama angka ini adalah BYD Atto 1. Pada Juli 2026, model ini menjadi kendaraan terlaris kedua secara nasional dengan 4.233 unit ritel—hanya kalah dari Daihatsu Gran Max Pick Up (4.449 unit) dan mengalahkan Toyota Kijang Innova (4.176 unit) serta Avanza (3.511 unit).

Di belakangnya, Geely EX2 mencatat 2.511 unit dan BYD M6 DM terjual 1.437 unit. Jaecoo J5, sub-merek Chery yang baru meluncur November 2025, juga menunjukkan taring dengan 3.155 unit di posisi enam.

Mengapa BYD Bisa Secepat Itu, Sementara Lainnya Tersendat?

Perbandingan dengan kompetitor China lain memperjelas posisi BYD. MG yang masuk Maret 2020 masih bergelut di bawah 10.000 unit ritel kumulatif setelah enam tahun. Jaecoo, yang paling agresif setelah BYD, diperkirakan butuh sekitar 34 bulan untuk menembus 100.000 unit—lebih cepat dari Wuling, tapi tetap di bawah rekor BYD.

Hyundai, satu-satunya non-China yang mendekati, butuh sekitar lima tahun untuk mengumpulkan 110.000 unit. Artinya, kecepatan BYD bukan sekadar efek "merek China lagi naik daun", melainkan eksekusi yang berbeda: jaringan pengisian daya yang agresif, harga yang dipatok tajam, dan varian yang langsung menyasar segmen terlaris.

Yang Perlu Dicermati Pembeli: Kapasitas Produksi dan Layanan Purna Jual

Pertumbuhan secepat ini selalu memunculkan pertanyaan soal kesiapan layanan. Total wholesales nasional Juli 2026 memang naik 33,3 persen dibanding tahun lalu, tapi konsumen perlu memastikan ketersediaan suku cadang dan bengkel resmi di kota mereka—terutama di luar Jawa, sebelum memutuskan membeli.

Belum ada data resmi soal waktu tunggu servis atau stok baterai pengganti di Indonesia. Ini catatan penting, bukan klaim kekurangan. Untuk pasar yang baru pertama kali mencoba mobil listrik China, pengalaman purna jual jangka panjang masih menjadi variabel yang belum teruji penuh—sesuatu yang justru sudah terbukti pada merek Jepang yang lebih dulu mapan.

Terlepas dari itu, angka 100.000 unit dalam 26 bulan adalah sinyal bahwa preferensi konsumen Indonesia sedang bergeser cepat. Bagi yang sedang mempertimbangkan mobil listrik, BYD kini punya bukti volume untuk meyakinkan—tapi keputusan akhir tetap bergantung pada kebutuhan harian dan akses fasilitas charging di sekitar Anda.

Reporter: Sutomo
Sumber: otomotif.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top