Gizi Anak 0-5 Tahun: Program Nutrisi Banda Aceh dan Panduan MPASI untuk Ibu

Penulis: Yasir  •  Kamis, 17 September 2026 | 09:03:01 WIB

ACEH — Sebanyak 90 persen perkembangan otak anak terjadi pada usia 0-5 tahun, dan asupan gizi yang tidak memadai bisa berdampak permanen. Program sosialisasi dan pemberian asupan nutrisi menyasar tiga gampong di Banda Aceh, lengkap dengan edukasi MPASI untuk ibu bayi dan balita.

Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh Farid Nyak Umar kembali menginisiasi program pemberian asupan nutrisi untuk anak. Kegiatan menyasar warga Gampong Laksana, Lampulo, dan Lamdingin dalam tiga hari berturut-turut mulai 14 September 2026.

Warga datang membawa balita dan bayi, mengikuti sesi sosialisasi, lalu pulang membawa satu talam bekal nutrisi berisi buah, sayur, dan telur. Program ini diadvokasi melalui Dinas Kesehatan Banda Aceh.

Mengapa 0-5 Tahun Jadi Masa Paling Krusial

Farid menyebut periode ini sebagai fondasi yang tidak bisa diulang. "Kualitas tumbuh kembang anak adalah indikator utama kemajuan suatu daerah," ujarnya.

Data yang ia sampaikan: 90 persen perkembangan otak terjadi sebelum anak berusia 5 tahun. Kekurangan gizi di fase ini bukan cuma soal tinggi badan, tapi menyangkut kecerdasan dan produktivitas jangka panjang.

"Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tetapi menyangkut kecerdasan, produktivitas, dan masa depan generasi," tambah politisi PKS itu.

Edukasi MPASI Jadi Fokus Sosialisasi

Selain pembagian makanan tambahan, pemateri dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Cabang Aceh mengisi sesi edukasi MPASI.

Meiliza membawakan materi di Posyandu Harapan Ibu Gampong Laksana. Di Posyandu Cahaya Mata Gampong Lampulo, hadir dr Khairunnisa, M. Gizi, Sp. GK. Posyandu Melati Gampong Lamdingin menghadirkan dr. Nanda, Sp. OG dan dr Bengi Muthmainnah.

Pilihan narasumber mencakup tiga bidang berbeda: gizi, kebidanan, dan laktasi. Kombinasi ini memungkinkan ibu bertanya langsung soal menu MPASI, jadwal makan, hingga kesiapan tekstur makanan sesuai usia bayi.

Kesehatan Ibu, Kunci Generasi yang Lebih Kuat

Farid menekankan bahwa tidak ada anak sehat tanpa ibu yang sehat. Perhatian penuh diberikan pada pemenuhan gizi ibu hamil dan menyusui, pemeriksaan rutin di posyandu, serta edukasi pola makan dan kebersihan lingkungan.

"Kesehatan ibu adalah titik awal seluruh siklus kehidupan. Ibu yang mendapatkan pendampingan kehamilan, edukasi gizi, dan dukungan psikologis akan melahirkan generasi yang lebih kuat," ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pendampingan emosional dan sosial. Kesehatan mental ibu berpengaruh langsung pada tumbuh kembang anak, terutama di tahun-tahun awal.

Peran Posyandu dan Kader yang Jarang Disorot

Posyandu disebut sebagai ruang aman bagi ibu untuk bertanya, belajar, dan mendapat layanan dasar kesehatan. Di sinilah pemantauan berat dan tinggi badan, imunisasi, edukasi gizi keluarga, serta deteksi dini risiko kesehatan ibu dan anak berlangsung rutin.

"Kader Posyandu adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang menjaga masa depan generasi kita," kata Farid.

Sebagai Ketua Komisi IV, ia menegaskan komitmen mengawal kebijakan dan anggaran kesehatan ibu dan anak, memperkuat Posyandu sebagai pusat edukasi keluarga, serta mendorong kolaborasi lintas sektor antara gampong, tenaga kesehatan, dan lembaga pendidikan.

Yang Perlu Ibu Cermati soal Asupan Anak

Beberapa tanda anak perlu pendampingan gizi lebih lanjut: berat badan tidak naik dua bulan berturut-turut, anak tampak lemas dan tidak aktif, atau sulit makan lebih dari dua minggu. Segera konsultasi ke posyandu atau dokter anak jika menemui kondisi ini.

Untuk MPASI, pastikan tekstur sesuai usia, variasi bahan mencakup protein hewani seperti telur dan ikan, serta jadwal makan teratur. Jangan ragu bertanya ke kader posyandu soal menu yang sesuai kondisi anak.

Program di Banda Aceh ini menunjukkan satu hal: gizi anak bukan urusan satu pihak. Butuh keluarga yang peduli, lingkungan yang mendukung, dan layanan kesehatan yang terjangkau. Ibu yang mendapat pendampingan sejak kehamilan adalah titik awal dari generasi yang lebih kuat.

Reporter: Yasir
Sumber: atjehwatch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top