MPASI Bayi 7 Bulan: Tekstur, Takaran, dan Menu Sehari-hari

Penulis: Yasir  •  Sabtu, 19 September 2026 | 14:18:31 WIB

ACEH — Memasuki usia 7 bulan, kebutuhan nutrisi bayi tidak lagi cukup hanya dari ASI sehingga tekstur dan takaran MPASI perlu dinaikkan bertahap. Panduan dari IDAI dan WHO berikut merangkum tekstur yang tepat, porsi 125 ml per makan, plus 4 resep menu rumahan yang gampang dibuat.

Sejak bayi genap 6 bulan, ASI saja tidak lagi memenuhi kebutuhan makronutrien dan mikronutriennya. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa MPASI yang tepat jadi kunci pemenuhan gizi sekaligus tumbuh kembang bayi. Di usia 7 bulan, tugas Bunda bergeser: bukan lagi soal "mau makan atau tidak", tapi "seberapa kental dan seberapa banyak".

Tekstur MPASI 7 Bulan: Naik Level dari Lumat ke Cukup Kental

Saat usia 6 bulan, bayi biasanya mulai dengan makanan lumat bertekstur halus atau disaring. Kalau si kecil sudah tampak bisa "mengunyah" dengan baik, Bunda bisa perlahan mengentalkan makanannya.

IDAI mencatat semangkuk bubur encer mengandung kalori dan zat gizi lebih sedikit dibanding bubur kental pada volume yang sama. WHO juga menegaskan makanan pertama bayi sebaiknya tidak terlalu cair.

"Makanan yang pertama kali diberikan kepada bayi haruslah kental, tidak mudah jatuh dari sendoknya, dan mengandung lemak sehingga kalori makanan tersebut lebih tinggi dari kalori ASI," bunyi rekomendasi WHO seperti dikutip dari buku Kelas Bayi Nyam-Nyam: Panduan Pemberian MP-ASI Sejak Hari Pertama Bayi Makan.

Praktiknya sederhana: ambil satu sendok, balik. Kalau adonan tidak langsung menetes, teksturnya sudah pas.

Takaran MPASI Bayi 7 Bulan Menurut IDAI

Anjuran IDAI menyebut porsi MPASI bayi 7 bulan dimulai dari sekitar 3 sendok makan hingga setengah mangkuk ukuran 250 ml, atau setara 125 ml, per satu kali makan. Frekuensinya 2–3 kali sehari, ditambah 1–2 kali makanan selingan.

ASI tetap diberikan sesuai keinginan bayi dan menjadi sumber nutrisi penting sampai usia 2 tahun atau lebih. Contoh jadwal yang bisa diterapkan:

  • 06.00: ASI
  • 08.00: Sarapan bertekstur lumat
  • 10.00: ASI atau camilan buah bertekstur lembut
  • 12.00: Makan siang bertekstur lembut
  • 14.00: ASI
  • 16.00: Makanan selingan
  • 18.00: Makan malam bertekstur lumat
  • 20.00, 22.00, 24.00, 03.00: ASI sesuai kebutuhan

1. Bubur Apel Roti

Menu camilan ini dikutip dari buku Koleksi Resep Bayi & Balita oleh Tim Dapur Sehat. Siapkan 1 buah apel merah, 1/2 lembar roti tawar tanpa pinggir, dan 100 ml ASI atau susu formula.

Kukus apel sampai lunak, haluskan dengan blender, lalu masukkan roti dan susu dan blender lagi. Tuang ke mangkuk dan sajikan.

2. Puree Apel, Buncis, dan Brokoli

Resep dari buku Resep MPASI Bayi Terfavorit oleh Yully Herlina ini butuh 1 apel manis sekitar 150 gram, 60 gram brokoli, dan 60 gram buncis muda.

Kupas apel, buang bijinya, potong dadu bersama brokoli dan buncis. Kukus sampai lunak, lalu proses dengan food processor atau blender hingga halus. Tambahkan sedikit air matang bila perlu.

3. Ikan Tuna dan Kentang Kukus Keju

Untuk 2 porsi, siapkan 75 gram fillet ikan tuna, air dari 1/4 jeruk nipis, 50 ml susu kedelai, 1 kuning telur ayam kampung, 25 gram brokoli cincang, 20 gram keju parut, 150 gram kentang iris tipis, dan 1/2 sdt margarin. Resep ini dikutip dari buku 50 Resep MPASI & Makanan Sehat untuk Anak oleh Dr Ari Istiany, M.Si dan Ayu Bulan Febry K.D, AMG, S.KM, M.M.

Lumuri tuna dengan air jeruk nipis selama 10 menit, bilas, lalu cincang kasar. Satukan susu kedelai, kuning telur, brokoli, tuna, dan keju, aduk rata. Olesi wadah tahan panas dengan margarin, tata kentang, tuang campuran susu, kukus 30 menit sampai matang.

4. Bubur Soto Ayam Santan

Menu bergizi dari Buku Resep Makanan Lokal terbitan Kemenkes RI ini menghasilkan 3 porsi. Bahannya 60 gram nasi putih, 45 gram daging ayam cincang, 30 gram tahu, 30 gram labu siam, 15 gram wortel, 1 lembar daun salam, 1 batang sereh, 1 lembar daun jeruk, 5 gram minyak goreng, 30 ml santan, dan 300 ml air kaldu ayam.

Haluskan bumbu berupa 1 siung bawang merah dan 1 siung bawang putih, lalu tumis bersama daun salam, sereh, dan daun jeruk sampai harum. Masukkan ayam cincang, tahu, labu siam, dan wortel, tuang kaldu dan santan, masak sampai matang dan kuah menyusut. Sesuaikan kekentalannya dengan kemampuan makan si kecil.

Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter Anak

Bayi yang menolak makan lebih dari beberapa hari, berat badannya tidak naik, atau tersedak berulang saat diberi tekstur baru sebaiknya diperiksa dokter. Alergi makanan juga perlu diwaspadai, terutama setelah memperkenalkan bahan baru seperti telur, ikan, atau susu.

Setiap bayi punya tempo berbeda. Yang penting, tekstur dan takaran naik bertahap, ASI tetap jalan, dan Bunda tidak perlu membandingkan dengan bayi lain di grup media sosial.

Reporter: Yasir
Sumber: haibunda.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top