Guru Besar Universitas Pertamina Sebut Bahan Baku Jadi Penghambat Bioetanol

Penulis: Fajar  •  Rabu, 30 September 2026 | 14:02:31 WIB
Guru Besar Universitas Pertamina Iman Kartolaksono Reksowardojo menilai ketersediaan bahan baku menjadi tantangan utama pengembangan bioetanol di Indonesia.

ACEH — Guru Besar Universitas Pertamina Iman Kartolaksono Reksowardojo menilai ketersediaan bahan baku sebagai tantangan utama pengembangan bioetanol di Indonesia. Dalam forum EVolution yang digelar CNNIndonesia, ia menyebut bahan baku bioetanol belum tersedia sebanyak biodiesel. Menurutnya, mewujudkan program E10 dan E20 berpeluang besar menuntut impor.

Iman Kartolaksono Reksowardojo menyampaikan penilaian itu saat menghadiri EVolution Forum yang digelar CNNIndonesia. Ia mulanya mengaku tidak mudah menjawab peluang keberhasilan bioetanol di Tanah Air.

Menurut Iman, ada proses dan prasyarat panjang yang harus dilalui sebelum bioetanol bisa dikembangkan secara luas. Salah satunya soal ketersediaan bahan baku yang belum sepadan dengan biodiesel.

Bahan Baku Bioetanol Belum Tersedia Sebanyak Biodiesel

"Bioetanol kan perlu bahan baku, ya. Di Indonesia bahan bakunya tuh belum tersedia dengan banyak seperti untuk biodiesel," ujar Iman.

Ia menambahkan, biodiesel lebih mudah dikembangkan karena bahan bakunya sudah tersedia dalam jumlah besar. Kondisi berbeda terjadi pada bioetanol yang menuntut pasokan bahan baku khusus.

Butuh Lahan Besar dan Waktu 5-10 Tahun

Masalah kebutuhan lahan menjadi satu hal yang disorot Iman. Proses pemrosesan bahan baku bioetanol disebutnya bisa memakan waktu hingga 10 tahun.

"Dan itu enggak mudah karena bahan bakunya harus menyediakan lahan yang besar kemudian ditanam kemudian dibesarkan kemudian bisa dipanen. Itu butuh waktu. Paling gak 5 sampai 10 tahun gitu, ya," jelasnya.

Menurut Iman, rentang waktu tersebut membuat pengembangan bioetanol tidak bisa dilakukan dalam tempo singkat. Perlu perencanaan jangka panjang sejak penyiapan lahan hingga masa panen.

Rencana E10 dan E20 Berpeluang Butuh Impor

Iman kemudian menyinggung rencana implementasi E10 dan E20. Ia sempat melontarkan pertanyaan terkait dari mana pemerintah akan memperoleh bahan baku untuk rencana ini.

Jika ingin rencana tersebut berhasil, Indonesia dinilainya perlu melakukan impor. Langkah itu berbeda dengan biodiesel yang pasokan bahan bakunya lebih siap.

"Kalau mau betul jalan itu ya apa boleh buat kita harus impor. Gak seperti untuk biodiesel begitu, kan. Nah, jadi tantangannya ya bahan bakunya tersedia gak? Kalo untuk 5 persen tidak, mandatory 5 persen seluruh Indonesia itu tidak terpenuhi gitu," sebut Iman.

Biaya Impor Perlu Dihitung Matang

Iman juga menyoroti pentingnya pertimbangan biaya impor. Terlebih jika ada alternatif impor lain yang lebih murah.

Pertimbangan itu menjadi bagian dari perhitungan besar pengembangan bioetanol di Indonesia. Pemerintah dinilai perlu memastikan pasokan bahan baku sebelum menerapkan mandatori E10 dan E20 secara nasional.

Reporter: Fajar
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top