Rupiah Melemah ke 17.910 per Dolar AS, Naik 84,5 Poin dari Penutupan Sebelumnya

Penulis: Ragil  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 11:33:31 WIB
Rupiah melemah ke level 17.910,3 per dolar AS pada perdagangan Senin (5/10/2026).

ACEH — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah ke level 17.910,3 pada perdagangan Senin (5/10/2026), naik 84,5 poin atau 0,47% dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.825. Pergerakan itu menempatkan rupiah meninggalkan level 17.800 yang bertahan sejak akhir pekan lalu. Dalam sepekan, rupiah masih mencatat kenaikan 0,33%, tetapi secara bulanan justru turun 1,53%.

Data Investing.com yang dihimpun pada pukul 10:39 WIB menunjukkan rupiah bergerak dalam rentang 17.851,9 hingga 17.936,0 sepanjang sesi. Posisi 17.910,3 berada 25,7 poin di bawah level tertinggi harian dan 58,4 poin di atas level terendah. Rentang itu menandakan volatilitas yang cukup lebar untuk perdagangan pagi.

Tekanan Dolar AS dalam Sepekan Terakhir

Dalam satu hari, rupiah tercatat turun 0,13%. Namun dalam satu minggu, mata uang Garuda masih mencatat kenaikan 0,33% terhadap dolar AS. Artinya, pelemahan harian belum sepenuhnya menghapus penguatan mingguan yang sudah terbentuk.

Gambaran berbeda muncul pada periode lebih panjang. Dalam satu bulan, rupiah turun 1,53%, sedangkan dalam tiga bulan masih naik tipis 0,22%. Tekanan terbesar terlihat pada enam bulan terakhir dengan penurunan 5,11%, satu tahun 7,67%, dan lima tahun mencapai 20,42%.

Rentang Pergerakan Harian Rupiah

  • Level terendah harian: 17.851,9
  • Level tertinggi harian: 17.936,0
  • Posisi pukul 10:39 WIB: 17.910,3
  • Penutupan sebelumnya: 17.825
  • Perubahan harian: +84,5 poin (+0,47%)

Implikasi bagi Investor dan Pelaku Bisnis

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS berdampak langsung pada perusahaan dengan beban utang valas dan importir bahan baku. Sebaliknya, eksportir berbasis komoditas berpeluang menikmati kenaikan pendapatan dalam rupiah. Investor asing juga cenderung menahan diri masuk ke aset berdenominasi rupiah saat kurs bergerak tidak stabil.

Pergerakan kurs ini terjadi di tengah belum adanya rilis data ekonomi domestik baru yang menjadi pemicu utama. Pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga global dan arus modal asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Proyeksi Jangka Pendek

Level 17.900 menjadi titik uji terdekat bagi rupiah. Jika tekanan dolar AS berlanjut, level 17.936 yang menjadi tertinggi harian berpotensi diuji ulang. Sebaliknya, jika arus masuk modal kembali deras, rupiah berpeluang kembali ke bawah 17.850.

Investor disarankan memantau data cadangan devisa dan lelang SBN pekan ini untuk mengukur arah permintaan valas domestik. Pergerakan kurs dalam lima tahun yang turun 20,42% menunjukkan tekanan struktural yang perlu dicermati dalam perencanaan keuangan jangka panjang.

Reporter: Ragil
Sumber: listrikindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top