BENER MERIAH — Kepala BPBD Bener Meriah, Ilham Abdi, menyebut penetapan status siaga darurat ini bukan menunggu bencana datang, melainkan bagian dari kesiapsiagaan sejak awal. Menurutnya, potensi hujan tinggi pada Oktober hingga Desember menjadi dasar utama kebijakan tersebut.
"Status siaga darurat ini merupakan langkah antisipasi dan kesiapsiagaan. Kita tidak menunggu bencana terjadi baru bergerak. Seluruh unsur harus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan personel, peralatan maupun logistik," kata Ilham kepada wartawan, Senin (5/10/2026).
BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Aceh memperkirakan Kecamatan Syiah Utama dan Timang Gajah memasuki kategori curah hujan tinggi sepanjang Oktober 2026, dengan intensitas 300 hingga 500 milimeter.
Kondisi serupa diprediksi meluas pada November 2026. Seluruh kecamatan di Bener Meriah diperkirakan mengalami curah hujan kategori tinggi dengan rentang intensitas yang sama, 300 sampai 500 milimeter per bulan.
Memasuki Desember 2026, intensitasnya menurun ke kategori menengah, yakni 150 hingga 300 milimeter per bulan, namun tetap berpotensi menimbulkan dampak di wilayah rawan.
Peningkatan curah hujan berpotensi memicu banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Ilham menyebut kondisi itu juga bisa mengganggu akses jalan serta merusak infrastruktur di sejumlah titik.
Warga yang tinggal di sekitar sungai, daerah rawan banjir, kawasan lereng, dan wilayah dengan riwayat longsor diminta meningkatkan kewaspadaan. Imbauan itu disampaikan mengingat pengalaman bencana serupa pada akhir 2025.
"Untuk itu kita mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar sungai, daerah rawan banjir, kawasan lereng dan wilayah yang memiliki riwayat longsor, untuk meningkatkan kewaspadaan," ujarnya.
Dengan status siaga darurat ini, BPBD Bener Meriah memperkuat Tim Reaksi Cepat (TRC), pemantauan wilayah, posko, personel, peralatan, serta logistik. Kesiapan itu disiapkan agar respons terhadap bencana bisa berjalan cepat.
Pemkab Bener Meriah juga mengacu pada imbauan Pemerintah Aceh agar seluruh daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi.
Pada akhir 2025, banjir dan longsor sempat melanda sejumlah wilayah Bener Meriah. Daerah itu tercatat mengalami kerusakan cukup parah, termasuk pada fasilitas umum dan infrastruktur.