ACEH — Sekitar 15 persen ibu hamil mengaku mendadak merasa jijik pada anjing peliharaannya sendiri, menurut survei ManyPets 2025 terhadap 1.077 perempuan. Perubahan hormon dan sensitivitas bau jadi biang keroknya, dan artikel ini mengupas penyebab, kaitan depresi perinatal, sampai risiko infeksi yang perlu diwaspadai.
Kehamilan sering membawa perubahan yang sulit ditebak. Bau parfum yang dulu disukai jadi bikin mual, makanan favorit berubah jadi tak selera. Pola serupa juga bisa muncul pada hewan peliharaan yang sudah lama jadi bagian keluarga.
Perasaan jijik ini nyata dan cukup banyak dialami. Hampir tidak ada penelitian khusus soal fenomena ini, sehingga banyak ibu merasa sendirian saat mengalaminya.
Rasa jijik terhadap hewan peliharaan umumnya berkaitan dengan perubahan hormon selama kehamilan. Mekanismenya mirip dengan morning sickness yang membuat ibu hamil sensitif terhadap bau tertentu.
Pada sekitar 1 sampai 3 persen ibu hamil, sensitivitas ini berkembang jadi mual ekstrem. Bau badan hewan peliharaan bisa jadi salah satu pemicunya.
Direktur pekerjaan sosial veteriner di Silver School of Social Work, Universitas New York, Dr. Katherine Compitus, menyebut topik ini jarang dibahas karena minim pendanaan. "Topik ini berada di persimpangan antara kurangnya pendanaan untuk kesehatan perempuan dan pengabaian terhadap ikatan antara manusia dan hewan," ujarnya.
Perusahaan asuransi hewan peliharaan asal Inggris, ManyPets, melakukan survei pada 2025 terhadap 1.077 perempuan yang pernah hamil dalam tiga tahun terakhir. Hasilnya, 15 persen responden pemilik hewan peliharaan mengaku merasa jijik pada anjing mereka selama kehamilan.
Yang perlu diperhatikan, perasaan ini bisa bertahan setelah melahirkan. Depresi perinatal, kecemasan, dan OCD dapat memperkuat emosi negatif, sehingga hewan peliharaan jadi sasaran pelampiasan.
Peneliti dari University of Tennessee, Knoxville's Center for Veterinary Social Work, Dr. Shelby McDonald, menjelaskan masa pasca persalinan rentan bagi ikatan manusia dan hewan. "Kemampuan sebuah keluarga untuk memenuhi kebutuhan hewan peliharaan dapat berubah secara substansial, baik secara fisik, emosional, praktis, maupun finansial," katanya.
Selain soal emosi, ibu hamil tetap perlu waspada pada risiko infeksi dari hewan peliharaan. Penelitian dari Texas A&M University menemukan bakteri Brucella canis (B. canis) pada anjing yang bisa berisiko bagi manusia.
Infeksi B. canis dapat menimbulkan gejala mirip flu dan berdampak negatif pada kehamilan. Menurut ulasan di Science Direct, brucellosis pada kehamilan dikaitkan dengan keguguran spontan, persalinan prematur, korioamnionitis, dan kematian janin.
Kucing juga punya risiko serupa lewat parasit Toxoplasma gondii. Parasit ini bisa menyebabkan cacat lahir, keguguran, hingga kematian pada orang dengan sistem kekebalan lemah.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) tetap memperbolehkan ibu hamil memelihara kucing. Risiko toksoplasmosis terutama datang dari kucing yang keluar rumah dan berburu mangsa seperti tikus. Kucing yang hanya diberi makanan kucing dan tidak kontak dengan hewan luar relatif lebih aman.
Kalau rasa jijik atau marah pada hewan peliharaan sudah mengganggu keseharian, Compitus menyarankan untuk berbicara dengan terapis. Terapi bisa membantu mengatasi emosi yang di luar kendali.
Pelatih hewan anjing Katherine Davidson, yang pernah mengalami hal serupa, menyebut perasaan negatif ini biasanya hilang dalam beberapa bulan seiring waktu.
Ibu hamil yang mengalami perubahan perasaan ekstrem sebaiknya tidak menahan sendiri. Dukungan emosional dari tenaga medis dan orang terdekat membuat masa transisi ini lebih ringan dijalani.