ACEH — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan angka tersebut telah melalui pembahasan dan komunikasi intensif dengan sejumlah kementerian serta pimpinan lembaga terkait. Kesepakatan ini menjadi salah satu indikator utama dalam menilai kinerja sektor hulu migas, termasuk Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).
"Saya beberapa hari lalu komunikasi dengan beberapa kementerian dan pimpinan yang lain itu di sekitar 612.500 barel per hari," ujar Bahlil dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI, Senin (7/9). "Untuk lifting minyak kita sepakat di 612.500 barel," tegasnya.
Kenaikan Tipis di Tengah Tantangan Sumur Tua
Jika dibandingkan dengan target Kementerian ESDM untuk tahun 2026 yang dipatok di angka 610 ribu bph, maka target 2027 mengalami peningkatan sekitar 0,4 persen. Meski secara persentase terbilang kecil, kenaikan ini mencerminkan optimisme pemerintah di tengah realitas pahit industri hulu migas nasional.
Sejumlah lapangan migas di Indonesia sudah memasuki fase mature atau berusia tua, yang secara alamiah mengalami penurunan produksi. Di sisi lain, kebutuhan energi domestik terus merangkak naik seiring pertumbuhan industri dan populasi. Kondisi ini membuat pemerintah harus bekerja ekstra keras untuk menahan laju penurunan alamiah tersebut.
Dua Jurus Utama: Optimalkan Lapangan Eksisting dan Percepat Proyek Baru
Untuk mencapai target yang telah disepakati, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan satu sisi. Upaya peningkatan produksi harus berjalan simultan dari dua arah. Pertama, mengoptimalkan produksi dari lapangan-lapangan yang sudah beroperasi melalui teknologi enhanced oil recovery (EOR) atau metode perawatan sumur lainnya.
Kedua, pemerintah berupaya mempercepat pengembangan lapangan-lapangan baru yang selama ini masih dalam tahap perencanaan atau eksplorasi. Tanpa adanya temuan cadangan baru yang segera diproduksikan, target produksi yang ambisius ini akan sulit direalisasikan. Keberhasilan dalam menjaga pasokan energi ini menjadi fondasi penting bagi ketahanan dan kemandirian energi Indonesia ke depan.
Gas Bumi Jadi Penopang Tambahan
Selain minyak, sektor hulu migas juga menargetkan lifting gas bumi yang cukup signifikan. Pemerintah mematok target produksi gas bumi sebesar 954 ribu million barrels of oil equivalent per day (MBOEPD) pada periode yang sama. Angka ini menunjukkan bahwa gas bumi masih menjadi andalan transisi energi nasional di tengah gencarnya pengembangan energi baru terbarukan.
Kinerja sektor hulu migas yang solid akan berdampak langsung pada penerimaan negara, baik dari sektor pajak maupun bagi hasil. Lebih jauh lagi, pasokan energi yang stabil menjadi nyawa bagi roda perekonomian nasional serta menjaga daya saing industri dalam negeri di tengah ketidakpastian harga energi global.