ACEH — Peringatan itu disampaikan Sutarto menyusul perubahan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 yang masih menyisakan risiko eksternal. Menurut dia, gejolak tersebut dapat memengaruhi neraca perdagangan, arus modal, dan nilai tukar rupiah.
Rantai dampaknya panjang. Gangguan pasokan energi dan kenaikan biaya logistik internasional berpotensi mendorong inflasi impor, yang ujungnya menaikkan biaya produksi dan distribusi beras.
Penggilingan Kecil Paling Rentan
Bagi industri penggilingan padi, tekanan ini mempersempit margin usaha. Kelompok yang paling terpukul adalah penggilingan skala kecil yang selama ini bergulat dengan keterbatasan modal, teknologi, dan fasilitas pengeringan.
Tekanan terhadap rupiah memperburuk situasi. Sejumlah input yang bergantung pada komponen impor jadi lebih mahal, sementara likuiditas modal kerja pelaku usaha penggilingan berpotensi mengketat.
"Tekanan ekonomi global perlu diantisipasi karena dapat berdampak pada biaya produksi dan distribusi beras, sekaligus memengaruhi daya beli masyarakat," ujar Sutarto.
Daya Beli Jadi Titik Lemah
Dari sisi domestik, Sutarto menilai fundamental makroekonomi Indonesia relatif terjaga. Namun pertumbuhan ekonomi belum mampu menciptakan lapangan kerja formal berkualitas dan mendongkrak produktivitas.
Ia menyoroti penyusutan kelas menengah, meningkatnya pengangguran usia produktif, dan bertambahnya kelompok masyarakat rentan. Kombinasi ini menekan daya beli, termasuk untuk kebutuhan pokok seperti beras.
Konsumsi rumah tangga yang selama ini jadi motor pertumbuhan ekonomi nasional bisa ikut melemah jika daya beli terus tergerus.
"Kenaikan biaya energi, perlambatan upah riil, keterbatasan lapangan kerja formal, dan tekanan inflasi dapat memengaruhi kepercayaan pasar serta meningkatkan risiko tekanan terhadap nilai tukar rupiah," kata Sutarto.
Koordinasi Lintas Lembaga Jadi Kunci
Sutarto menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, OJK, Perum Bulog, Kementerian Pertanian, aparat penegak hukum, dunia usaha, dan akademisi. Koordinasi itu dinilai perlu untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus memastikan ketersediaan beras.
Sejumlah langkah yang ia dorong:
- Pemantauan kondisi ekonomi dan sosial secara berkala
- Kebijakan fiskal dan moneter yang responsif
- Program perlindungan sosial tepat sasaran
- Penegakan hukum terhadap penimbunan, spekulasi, dan manipulasi harga
- Revitalisasi penggilingan padi lewat akses pembiayaan, teknologi, dan fasilitas pengeringan
- Stabilisasi harga gabah dan beras serta optimalisasi peran Bulog
- Pengendalian impor berdasarkan kondisi stok dan produksi nasional
Ia juga mendorong pengembangan beras fortifikasi dengan memperhatikan kesiapan industri, ketersediaan bahan baku, standar mutu, harga, dan daya serap pasar.
Tanpa respons kebijakan yang tepat, Sutarto mengingatkan tekanan ekonomi yang tidak diantisipasi bisa berdampak lebih luas terhadap stabilitas sosial, terutama jika terjadi gangguan pasokan atau kenaikan harga beras signifikan.
"Stabilitas nilai tukar rupiah, ketahanan pasokan beras, dan ketahanan ekonomi nasional harus dijaga secara berkelanjutan melalui kebijakan yang konsisten dan koordinasi lintas lembaga," pungkasnya.