BANDA ACEH — Kelancaran perjalanan melalui Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda tidak hanya bergantung pada layanan penerbangan. Fasilitas penumpang dan transportasi penghubung ikut menentukan, dan di titik itulah Dinas Perhubungan Aceh mengambil porsi kerja melalui koordinasi antarlembaga serta dukungan terhadap konektivitas wilayah.
Penelusuran terhadap tugas kelembagaan Dishub Aceh memperlihatkan dukungan terhadap Bandara SIM berjalan di beberapa lini sekaligus. Mulai dari koordinasi kegiatan fasilitasi bandara, penyediaan fasilitas pendukung, pengelolaan data angkutan udara, sampai kerja sama dengan para pemangku kepentingan penerbangan.
Fasilitasi Penerbangan Umrah dan Haji Masuk Lingkup Tugas Dishub
Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, menegaskan keberlanjutan akses penerbangan menjadi perhatian pemerintah daerah. Pernyataan itu disampaikannya dalam konteks penerbangan umrah langsung dari Banda Aceh melalui Bandara SIM.
"Pemerintah Aceh terus berupaya agar penerbangan umrah langsung dari Banda Aceh selalu ada sehingga memudahkan masyarakat," kata Faisal saat menghadiri pelepasan penerbangan umrah di Bandara SIM pada 29 Juni 2026.
Dalam keterangan resmi Dishub Aceh, Faisal mengaitkan keberlanjutan penerbangan tersebut dengan program Center of Umroh. Pemerintah Aceh menargetkan Bandara SIM sebagai pusat penerbangan umrah maupun haji dari Indonesia.
Fasilitasi pelayanan penerbangan haji dan umrah memang termasuk lingkup tugas Dishub Aceh. Di bidang penerbangan, dinas tersebut juga menyiapkan rekomendasi rute perintis serta mengumpulkan dan mengolah data angkutan udara sebagai bahan evaluasi.
Pembagian Tugas dengan AirNav Indonesia di Bandara SIM
Pelayanan navigasi dan pemanduan lalu lintas penerbangan diselenggarakan AirNav Indonesia. Lembaga ini memiliki kantor cabang Banda Aceh di kawasan Bandara SIM, dengan layanan mencakup pemanduan, informasi penerbangan, dan kesiagaan.
Pembagian tugas itu memperlihatkan dukungan terhadap operasional bandara melibatkan sejumlah lembaga dengan tanggung jawab masing-masing. Koordinasi menjadi penghubung antara pelayanan penerbangan dan kebutuhan transportasi masyarakat di daerah.
Kesinambungan Perjalanan Penumpang Jadi Perhatian
Salah satu kebutuhan yang penting diperhatikan ialah kesinambungan perjalanan penumpang. Kemudahan tiba di bandara perlu terhubung dengan akses menuju Banda Aceh maupun kabupaten/kota tujuan.
Masyarakat yang berangkat dari daerah juga membutuhkan pilihan transportasi menuju bandara dengan informasi layanan yang jelas. Kebutuhan itu berkaitan dengan fungsi pemaduan antarmoda pada Dishub Aceh.
Perencanaan hubungan antarmoda dapat menjadi dasar untuk menilai kesesuaian layanan angkutan penghubung dengan kebutuhan perjalanan masyarakat. Data penerbangan dan penumpang pun penting untuk membaca perkembangan kebutuhan tersebut.
Jadwal operasional, realisasi penerbangan, dan pola perjalanan dalam suatu periode dapat menjadi bahan evaluasi fasilitas maupun layanan transportasi penghubung. Dengan dukungan yang terencana, keberadaan Bandara SIM diharapkan semakin memudahkan mobilitas masyarakat di berbagai wilayah Aceh.