ACEH — Survei Cox Automotive mencatat 69% konsumen Gen Z di Amerika Serikat tertarik membeli mobil China, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 38%. Ketertarikan itu tumbuh meski merek-merek China belum memiliki sertifikasi federal, jaringan dealer, maupun harga resmi di pasar AS. Harga terjangkau menjadi alasan utama, sementara kekhawatiran soal kualitas dan keselamatan masih membayangi.
Angka 69% itu muncul dari survei yang digelar Cox Automotive, lembaga riset pasar otomotif yang berbasis di AS. Ketertarikan Gen Z terhadap merek China tercatat paling tinggi dibanding kelompok usia lain. Padahal, merek-merek tersebut belum benar-benar berjualan secara resmi di sana.
Mobil China Masih Sebatas Pilihan di Atas Kertas
Sejumlah merek China belum mengantongi sertifikasi federal AS. Mereka juga belum memiliki jaringan dealer dan servis yang luas. Produk mereka pun belum dijual dengan harga yang sudah disesuaikan tarif impor.
Kondisi itu membuat mobil China baru sebatas opsi di atas kertas bagi sebagian konsumen Amerika. Diskusi soal merek seperti BYD yang disebut lebih murah dibanding mobil lokal ramai di internet, tapi belum tentu bisa dibeli konsumen di sana.
Harga Jadi Alasan Utama, Bukan Teknologi atau Desain
Hampir separuh responden memberi penilaian positif terhadap kemampuan merek China menawarkan mobil dengan harga terjangkau. Sekitar 35% menilai performanya menarik. Artinya, faktor harga mendominasi alasan ketertarikan, bukan teknologi atau desain semata.
Secara keseluruhan, 38% konsumen menyatakan sangat mungkin membeli mobil China. Sebaliknya, 39% mengaku sangat tak mungkin membelinya. Angka ini menunjukkan minat yang belum merata di seluruh populasi konsumen AS.
Kekhawatiran Kualitas hingga Keselamatan Belum Hilang
Sejumlah hal masih membuat konsumen ragu. Mulai dari kualitas, keselamatan, daya tahan, hingga reliabilitas. Kekhawatiran itu bahkan lebih besar di kalangan dealer.
Hanya sekitar 15% dealer yang mengatakan ingin merek China masuk ke Amerika Serikat. Sebanyak 92% dealer mengaku punya kekhawatiran jika harus menjual mobil China. Meski demikian, sekitar 70% dealer mengaku akan menyesuaikan strategi bisnis jika merek China benar-benar masuk ke pasar AS.
Minat Melonjak jika Ada Merek Amerika yang Bermitra
Ada satu temuan lain yang tak kalah unik. Ketika konsumen dikasih skenario merek China bermitra dengan merek Amerika yang sudah berpengalaman, minat membeli kendaraan naik menjadi 76%. Angka ini melampaui ketertarikan awal terhadap merek China murni.
Temuan itu memberi gambaran bahwa kepercayaan terhadap merek lokal AS masih jadi faktor penentu. Kemitraan dengan pemain berpengalaman disebut mampu menurunkan keraguan konsumen terhadap kualitas dan layanan purnajual.
Peluang Gen Z jika Merek China Masuk Resmi
Jika merek-merek China nantinya benar-benar masuk dan berjualan resmi di AS, Gen Z menjadi kelompok paling potensial. Ketertarikan 69% itu jauh di atas rata-rata nasional 38%. Generasi muda dinilai lebih terbuka terhadap merek pendatang baru dibanding konsumen usia lebih tua.
Namun, realisasinya bergantung pada kesiapan pabrikan China memenuhi standar regulasi AS. Tanpa sertifikasi federal dan jaringan dealer yang memadai, minat sebesar apa pun masih berhenti di tahap survei.