Pencarian

JBL Sikat Ratusan Ribu Produk Audio Palsu di Asia Pasifik

Sabtu, 26 September 2026 • 21:32:31 WIB
JBL Sikat Ratusan Ribu Produk Audio Palsu di Asia Pasifik
Harman International memfasilitasi penghapusan lebih dari 500.000 tautan produk ilegal JBL di marketplace Asia Pasifik sepanjang 2025.

ACEH — Harman International memfasilitasi penghapusan lebih dari 500.000 tautan produk ilegal JBL di marketplace Asia Pasifik sepanjang 2025, sekitar 300.000 di antaranya teridentifikasi menjual barang palsu. Penindakan berlanjut pada semester I 2026 lewat penyitaan speaker Flip 6 dan Charge 6 di Korea Selatan serta penggagalan peredaran merek fiktif "JBL Max 33" di Thailand. Kolaborasi lintas negara ini menyasar rantai distribusi tiruan yang berisiko pada keselamatan konsumen.

Harman International menggandeng platform e-commerce, otoritas bea cukai, dan aparat penegak hukum regional untuk mengidentifikasi sekaligus menindak peredaran produk tiruan bermerek JBL. Upaya perlindungan merek itu mencatat sejumlah capaian dalam dua tahun terakhir, mulai dari pembersihan marketplace hingga operasi penyitaan lintas negara.

Pembersihan Marketplace Sepanjang 2025

Harman memfasilitasi penghapusan lebih dari 500.000 tautan produk ilegal di berbagai marketplace digital utama kawasan Asia Pasifik. Sekitar 300.000 tautan di antaranya teridentifikasi menjajakan barang palsu, sedangkan sisanya melakukan pelanggaran hak kekayaan intelektual (HAKI).

Angka tersebut menjadikan pembersihan marketplace sebagai kontribusi terbesar dalam upaya perlindungan merek Harman di kawasan ini. Platform e-commerce berperan sebagai mitra utama karena menjadi kanal distribusi dominan produk audio tiruan.

Penyitaan di Korea Selatan

Operasi penegakan hukum bersama otoritas lokal Korea Selatan pada semester I 2026 menyita unit palsu dari speaker portabel JBL Flip 6 dan JBL Charge 6. Penyitaan itu bertujuan memutus rantai distribusi lokal yang selama ini memasok perangkat tiruan ke pasar konsumen.

Dua model tersebut termasuk lini speaker portabel paling laris JBL, sehingga menjadi target utama pemalsu. Produk tiruan yang beredar umumnya dijual dengan harga jauh di bawah harga resmi.

Penggagalan di Thailand

Petugas bea cukai Thailand menggagalkan peredaran produk palsu bermerek fiktif "JBL Max 33" pada semester I 2026. Otoritas setempat juga menyita unit tiruan dari JBL Go 4, JBL Clip, hingga lini headphone JBL Tune series.

Merek fiktif "JBL Max 33" menunjukkan modus baru pemalsu yang menciptakan nama model tidak pernah dirilis JBL resmi. Konsumen yang tidak mengenal lini produk asli berisiko tertipu karena nama modelnya terdengar meyakinkan.

Edukasi Konsumen dan Bahaya Produk Tiruan

Selain tindakan hukum, Harman meluncurkan kampanye edukasi anti-barang palsu di media sosial tingkat regional. Kampanye ini membantu masyarakat mengenali perangkat audio asli dan memahami risiko produk tiruan.

General Manager and Vice President Consumer Audio Harman Asia Pacific, Grace Koh, mengingatkan bahwa produk tiruan mengabaikan proses kendali mutu dan mengandalkan komponen berkualitas rendah yang berisiko memicu bahaya keselamatan.

"Selain menyajikan kualitas suara yang luar biasa, produk asli JBL dirancang untuk bekerja secara seamless dalam ekosistem JBL. Melalui aplikasi resmi, konsumen dapat mempersonalisasi pengaturan EQ, mengakses fitur seperti stereo pairing dan Playtime Boost. Pengalaman seperti ini tidak dapat direplikasi oleh produk tiruan," jelas Grace Koh, dalam keterangan yang diterima detikINET, Sabtu (26/9/2026).

Imbauan untuk Pembeli di Indonesia

Harman mengimbau konsumen selalu membeli perangkat JBL melalui retailer resmi maupun toko online terverifikasi (official store). Konsumen juga diminta mewaspadai penawaran harga yang terlampau murah karena sering menjadi tanda produk palsu.

Bagi pelaku bisnis digital dan investor, kasus ini memperlihatkan bahwa perlindungan merek di kawasan Asia Pasifik menuntut kolaborasi tiga pihak: pemilik merek, platform marketplace, dan otoritas penegak hukum. Tanpa koordinasi itu, pembersihan tautan ilegal cenderung berjalan lambat dan tidak menyentuh rantai distribusi di lapangan.

Follow pantauaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks