Pencarian

Subsidi LPG Tembus Rp100 Triliun akibat Lonjakan ICP September 2026

Jumat, 16 Oktober 2026 • 06:34:31 WIB
Subsidi LPG Tembus Rp100 Triliun akibat Lonjakan ICP September 2026
Menteri Bahlil Lahadalia menyampaikan subsidi LPG mendekati Rp100 triliun akibat lonjakan ICP September 2026.

ACEH — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyatakan total subsidi LPG membengkak mendekati Rp100 triliun setelah rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) September 2026 melonjak ke 112,81 dolar AS per barel. Kenaikan ini tercatat dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026, naik 23,38 dolar AS dibanding Agustus 2026. Pemerintah menyiapkan CNG sebagai alternatif untuk menekan beban impor LPG.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menyebut lonjakan ini sebagai cerminan dinamika pasar minyak global. Menurutnya, kenaikan terjadi secara menyeluruh pada seluruh benchmark internasional.

"Rata-rata ICP bulan September 2026 yang melonjak naik menjadi 112,81 dolar AS per barel merupakan cerminan dari dinamika pasar minyak global yang dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan (supply disruption risk)," ujar Laode.

Beban Subsidi LPG Naik Hampir Rp100 Triliun

Bahlil Lahadalia mengungkap dampak langsung lonjakan ICP terhadap anggaran negara. Saat ICP berada di 70 dolar AS per barel, subsidi LPG mencapai Rp87 triliun. Ketika ICP bergerak di kisaran 90 hingga 100 dolar AS per barel, beban subsidi melonjak mendekati Rp100 triliun.

"Saat ICP-nya masih di 70 dolar AS per barel, itu subsidi kita mencapai Rp87 triliun. Tetapi begitu ICP-nya rata-rata sekarang di angka 90 sampai 100 dolar AS per barel, subsidi kita di atas hampir Rp100 triliun," ucap Bahlil dalam peresmian Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10).

Bahlil merangkap sebagai Menteri ESDM. Ia menyebut ketidakpastian geopolitik sebagai pemicu utama, mulai dari perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran, perang Ukraina melawan Rusia, hingga konflik yang melebar ke Arab Saudi.

"Hampir semua dunia sekarang berpikir tentang bagaimana bisa mengamankan sektor energi mereka dari dalam negeri mereka masing-masing. Ini tantangan kita," ucap Bahlil.

CNG Disiapkan sebagai Substitusi Impor LPG

Pemerintah menyiapkan compressed natural gas (CNG) atau gas alam dikompresi sebagai alternatif LPG. Bahlil menegaskan CNG bukan sumber energi baru karena sejumlah restoran dan hotel sudah memakainya.

"Dan harganya lebih murah 30 sampai 40 persen. Itu memakai gasnya yang jenis C1, C2. Itu melimpah di negara kita," ucap Bahlil.

Bahlil meyakini CNG dapat menjadi substitusi impor LPG. Pekerjaan rumah pemerintah saat ini adalah memastikan kelancaran uji coba tabung 3 kg untuk CNG.

"Ini sebagai strategi untuk bagaimana kita melahirkan substitusi impor, namun tabungnya yang 3 kg ini lagi diuji. Kalau tabung yang 12 kg itu sudah dipakai," kata Bahlil.

Pemicu Lonjakan: Konflik Timur Tengah hingga OPEC+

Laode membeberkan sejumlah faktor yang menekan pasokan minyak mentah global. Eskalasi konflik militer dan kebuntuan diplomasi di Timur Tengah, khususnya ketegangan yang melibatkan AS dan Iran, meningkatkan risiko keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Selat itu merupakan jalur vital ekspor minyak dunia.

Penundaan kuota produksi oleh OPEC+ serta serangan lanjutan terhadap infrastruktur kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia dan kawasan Laut Merah turut memperketat pasokan. Kombinasi faktor-faktor tersebut mendorong ICP ke level tertinggi sepanjang periode pencatatan terbaru.

Follow pantauaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ambon.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks