ACEH — Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyampaikan data tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Kamis (4/6). Ia menyebut capaian ini menunjukkan akses listrik bagi masyarakat semakin nyata.
Pemerintah memfokuskan program listrik desa (lisdes) pada 1.285 lokasi sepanjang 2025, dengan potensi 77.616 calon pelanggan. Setelah optimasi anggaran, target bertambah menjadi 1.516 lokasi dan realisasi konstruksi telah selesai 100 persen.
"Realisasi konstruksi sudah selesai 100 persen dan telah dilengkapi dengan SLO," ujar Tri. Program ini merupakan komitmen kuat pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto untuk melistriki seluruh desa dalam empat tahun.
Tri menjelaskan, pemerintah menetapkan empat strategi sesuai kondisi wilayah: perluasan jaringan atau grid, mini-grid, PLTS individual dan baterai, serta Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Strategi ini dirancang untuk menjangkau daerah terpencil.
Distribusi lokasi lisdes 2025 terbesar berada di Jawa Timur sebanyak 142 lokasi, Jawa Barat 120 lokasi, Nusa Tenggara Timur 113 lokasi, dan Jawa Tengah 113 lokasi. Sulawesi Tengah mencatat 94 lokasi, Sumatra Utara 78 lokasi, Kalimantan Barat 78 lokasi, DIY 64 lokasi, dan Papua Barat Daya 63 lokasi.
Untuk pelaksanaan lisdes 2026-2027, pemerintah merancang skema pembangunan jaringan distribusi dan PLTS komunal yang mencakup 3.850 lokasi. Total kebutuhan anggaran mencapai Rp18,65 triliun.
"Anggaran dari program Lisdes-2026 telah ditetapkan sebesar Rp10,3 triliun yang terdiri dari rupiah murni reguler Rp994 miliar dan anggaran tambahan sekitar Rp9,3 triliun," tandas Tri. Target tahun 2026 meningkat menjadi 2.065 lokasi dengan potensi 173.853 calon pelanggan.
Roadmap program lisdes dan BPBL periode 2025-2029 disusun sebagai peta jalan nasional untuk menuntaskan pemerataan akses listrik secara berkelanjutan. Pemerintah terus mendorong elektrifikasi di daerah-daerah yang masih memiliki rasio rendah.