BLANGPIDIE — Di Kabupaten Aceh Barat Daya, profesi Penyuluh Sosial mungkin belum setenar penyuluh pertanian atau agama. Namun, peran mereka justru krusial dalam menangani persoalan mulai dari kemiskinan, kenakalan remaja, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga pemulihan psikososial pascabencana.
Para penyuluh ini bertugas di sembilan kecamatan, mulai dari Babahrot hingga Lembah Sabil. Mereka adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang mendapat tugas, tanggung jawab, dan hak untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan sosial.
Karakteristik wilayah Abdya yang beragam—mulai dari pesisir, sentra pertanian, hingga pegunungan—menuntut para penyuluh untuk adaptif. Tiga peran utama mereka menjadi kunci dalam pembangunan sosial daerah.
Pertama, menjadi jembatan antara kebijakan dan realitas masyarakat. Tidak semua warga memahami mekanisme program kesejahteraan sosial. Penyuluh Sosial bertugas menerjemahkan bahasa regulasi yang formal menjadi bahasa yang mudah dipahami, termasuk menggunakan bahasa Aceh dan Aneuk Jamee agar pesan pembangunan sosial lebih mudah diterima.
Kedua, menggerakkan potensi dan semangat meuseuraya. Prinsip help them to help themselves menjadi landasan utama. Mereka tidak menciptakan ketergantungan, melainkan mendorong masyarakat agar mampu mengenali dan memanfaatkan potensi sendiri. Semangat gotong royong dihidupkan kembali melalui kolaborasi dengan Karang Taruna, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK).
Ketiga, mengadvokasi hak kelompok rentan. Ketika seorang penyandang disabilitas kesulitan mengakses fasilitas publik, atau seorang lansia belum tercatat dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), Penyuluh Sosial melakukan asesmen dan pendampingan. Mereka membangun komunikasi dengan berbagai pihak untuk memastikan layanan sosial menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan.
Perkembangan teknologi digital menghadirkan persoalan baru. Fenomena judi online, penyalahgunaan media sosial, dan ketergantungan gawai pada anak dan remaja kini menjadi isu yang harus dihadapi para penyuluh. Kondisi geografis Abdya yang memiliki akses terbatas di beberapa wilayah juga menuntut kreativitas dalam metode penyuluhan.
Untuk menjawab tantangan itu, para Penyuluh Sosial mulai memanfaatkan media digital dan edukasi berbasis komunitas. Penguatan jejaring kerja lintas sektor juga terus dilakukan agar pembangunan sosial di Aceh Barat Daya berjalan lebih efektif dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.