PIDIE JAYA — Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), prevalensi kekurangan konsumsi pangan atau Prevalence of Undernourishment (PoU) di Kabupaten Pidie Jaya tercatat sebesar 9,24 persen pada 2025. Angka ini berada di atas rata-rata nasional yang mencapai 7,89 persen pada periode yang sama.
Meskipun turun 0,43 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 9,67 persen, angka PoU Pidie Jaya justru melonjak 4,14 poin persentase dalam lima tahun terakhir. Artinya, dalam setahun terakhir, kondisi konsumsi pangan warga di sana sedikit membaik, namun tren jangka panjang menunjukkan peningkatan jumlah penduduk yang kesulitan memenuhi kebutuhan energi harian.
Menurut Badan Pangan Nasional (Bapanas), PoU mengukur kondisi di mana seseorang secara rutin mengonsumsi makanan dalam jumlah yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan energi bagi kehidupan yang normal, aktif, dan sehat. Indikator ini digunakan untuk menilai status kerawanan pangan dan gizi di suatu daerah. Dengan kata lain, kurang dari 9,24 persen populasi Pidie Jaya tidak mampu memenuhi kebutuhan energi dari makanannya sehari-hari.
Di antara 22 kabupaten/kota di Aceh, Pidie Jaya menempati peringkat ke-19 untuk PoU tertinggi. Artinya, hanya tiga daerah lain yang memiliki persentase lebih buruk. Kota Subulussalam mencatatkan PoU terendah dengan 6,01 persen, sementara Aceh Tamiang menjadi yang tertinggi dengan 11,62 persen.
Berikut adalah 10 kabupaten/kota di Aceh dengan PoU terendah pada 2025:
Dengan PoU 9,24 persen, Pidie Jaya berada 1,35 poin persentase di atas angka nasional. Kondisi ini menandakan bahwa kerawanan pangan di daerah tersebut masih menjadi perhatian serius. Data ini menjadi sinyal bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk memperkuat program ketahanan pangan dan gizi, terutama bagi kelompok rentan.