ACEH TIMUR — Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky bersama tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meninjau langsung sejumlah titik kerusakan saluran irigasi pada 11 Juni 2026. Hasilnya, ditemukan kerusakan fisik di beberapa ruas saluran serta sedimentasi lumpur yang menghambat aliran air menuju areal persawahan.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh Timur, Irwin Akbar, menyebutkan bahwa dampak kerusakan ini sudah dirasakan oleh petani di belasan desa. "Dampaknya sejumlah desa yang selama ini bergantung pada pasokan air dari jaringan irigasi tersebut tidak lagi menerima aliran irigasi," ujarnya.
Jika tidak segera ditangani, Bupati Iskandar mengkhawatirkan musim tanam akan terhambat dan produktivitas pertanian masyarakat setempat menurun drastis.
Daerah Irigasi Jambo Aye merupakan salah satu sistem irigasi terbesar di Aceh. Berdasarkan data BWS Sumatera I, sistem ini mengambil sumber air dari Sungai Arakundo atau Sungai Jambo Aye dan memiliki potensi layanan puluhan ribu hektare lahan pertanian. Infrastruktur ini menjadi tulang punggung sektor pertanian di wilayah pantai timur Aceh dan berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan daerah.
Kerusakan yang terjadi saat ini merupakan dampak lanjutan dari bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada akhir tahun 2025. Kementerian Pekerjaan Umum sebelumnya telah melakukan langkah darurat seperti pembersihan sedimen, rehabilitasi bangunan irigasi, hingga normalisasi saluran. Bahkan pada awal 2026, sempat dilakukan uji coba pengaliran air untuk memastikan sebagian jaringan kembali beroperasi.
Irwin Akbar menegaskan bahwa pihaknya kini hanya bisa berharap pada BWS Sumatera I. "Kami berharap Balai Wilayah Sungai Sumatera I dapat segera melakukan perbaikan dan normalisasi jaringan irigasi yang rusak itu sehingga petani bisa kembali turun ke sawah layaknya sebelum banjir," tuturnya.
Surat resmi dari Pemkab Aceh Timur telah dilayangkan, menunggu respons dan tindak lanjut dari pemerintah pusat melalui BWS. Sementara itu, petani di 12 desa terdampak masih menanti kepastian kapan air kembali mengalir ke sawah mereka.