ACEH BESAR — Air sungai yang menjadi sumber baku produksi air minum di Aceh Besar terus menunjukkan penurunan kualitas. Meski tengah memasuki musim kemarau, tingkat kekeruhan air yang masuk ke instalasi pengolahan justru meningkat drastis, memaksa PDAM Tirta Mountala mengambil langkah penyesuaian teknis.
Hasil evaluasi di lapangan menunjukkan tiga instalasi utama PDAM, yakni WTP Indrapuri, WTP Montasik, dan WTP Kuta Malaka, memerlukan perbaikan infrastruktur. Kunjungan terbaru dilakukan ke WTP Montasik untuk mengidentifikasi kerusakan dan kebutuhan peningkatan kapasitas.
“Kalau kita melihat kondisi sekarang ini, masih banyak yang perlu kita benahi. Hari ini kami melakukan kunjungan ke WTP Montasik dan memang terdapat berbagai hal yang harus segera diperbaiki,” kata Yusmadi, Rabu (17/6/2026).
Yusmadi menjelaskan, fenomena ini berbeda dengan pola beberapa tahun sebelumnya. Dulu, air sungai cenderung jernih saat kemarau. Kini, meskipun curah hujan minim, air yang mengalir ke instalasi sudah keruh sejak awal. Hal ini menuntut peningkatan teknologi pengolahan dan perawatan fasilitas secara lebih ketat.
“Dulu ketika musim kemarau, air sungai masih cukup jernih. Namun sekarang, meskipun musim kemarau, air yang masuk ke instalasi sudah keruh. Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.
PDAM Tirta Mountala menargetkan pembenahan fasilitas dilakukan secara bertahap untuk menjaga kualitas air distribusi dan memperluas jangkauan layanan. Di tengah meningkatnya kebutuhan akibat pertumbuhan penduduk, PDAM juga menghadapi tekanan biaya operasional yang terus naik.
Oleh karena itu, pihaknya mengimbau pelanggan untuk tertib membayar tagihan. Yusmadi menegaskan, tunggakan yang tidak diselesaikan berisiko menyebabkan pemutusan sambungan secara permanen.
“Kami mengimbau kepada seluruh pelanggan agar segera melunasi tagihan yang masih menunggak. Jangan sampai sambungan harus diputus total karena tunggakan yang tidak diselesaikan,” tegasnya.