BEKASI — Kemnaker tidak ingin kerja sama dengan Ubhara Jaya berhenti sebagai seremoni belaka. Sekretaris Jenderal Kemnaker, Cris Kuntadi, menegaskan bahwa kolaborasi ini dirancang untuk memutus rantai ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri.
“Ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah momentum untuk memperkuat sinergi antara dunia akademik dengan dunia praktik ketenagakerjaan. Salah satu tujuan utamanya adalah meminimalkan mismatch antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia industri,” kata Cris dalam keterangannya, Jumat.
Melalui nota kesepahaman ini, mahasiswa Ubhara Jaya tidak hanya mendapatkan teori di kelas. Mereka bisa langsung mengakses empat layanan utama yang sudah disiapkan Kemnaker dalam satu platform bernama SIAPKerja:
Cris mendorong mahasiswa semester akhir untuk segera memanfaatkan layanan tersebut. “Mahasiswa dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi dunia kerja yang sesungguhnya, mulai dari proses melamar pekerjaan, komunikasi profesional, hingga menghadapi wawancara kerja,” ujarnya.
Menurut Cris, tantangan ketenagakerjaan saat ini jauh lebih kompleks. Persaingan tenaga kerja tidak lagi terbatas di tingkat lokal atau nasional, melainkan sudah merambah ke level global. Ia menyebutkan, tenaga kerja asing dari berbagai negara juga menjadi pesaing langsung bagi lulusan dalam negeri.
“Kita perlu menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten, adaptif, dan berdaya saing. Saingan kita bukan hanya di Bekasi atau Indonesia, tetapi juga tenaga kerja dari berbagai negara. Karena itu, kita harus memiliki talenta-talenta unggul yang benar-benar siap bekerja dan mampu bersaing di tingkat global,” tegasnya.
Cakupan kerja sama ini tidak hanya sebatas penempatan kerja. Kemnaker dan Ubhara Jaya juga akan bersinergi dalam pengembangan kapasitas SDM, pelaksanaan riset bersama, pengabdian kepada masyarakat, serta pemanfaatan sarana dan prasarana untuk memperkuat ekosistem ketenagakerjaan nasional.
Cris berharap, kolaborasi ini bisa melahirkan program-program nyata yang berdampak langsung, seperti peningkatan kompetensi SDM, penguatan kajian dan penelitian di bidang ketenagakerjaan, serta pengabdian kepada masyarakat melalui program Tenaga Kerja Mandiri. “Penguatan hubungan antara dunia pendidikan dan dunia kerja, serta penguatan kebijakan ketenagakerjaan berbasis data dan hasil kajian sebagai dasar pengambilan keputusan,” pungkasnya.