Harga BBM Non-subsidi Berpotensi Turun Bertahap Mulai Awal Juli 2026, Pertamina Buka Suara

Penulis: Ragil  •  Senin, 29 Juni 2026 | 16:52:32 WIB
PT Pertamina Patra Niaga menegaskan harga BBM non-subsidi mengikuti fluktuasi harga minyak dunia.

ACEH — PT Pertamina Patra Niaga buka suara soal wacana penurunan harga BBM non-subsidi yang mengemuka dalam beberapa hari terakhir. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Robert Dumatubun, menyatakan bahwa mekanisme harga BBM non-subsidi di Indonesia memang mengacu langsung pada pergerakan harga minyak mentah dunia.

"Tentunya apabila harga minyak dunia seiring waktu menurun, maka potensi penurunan harga BBM non-subsidi seperti yang sudah terjadi, contohnya pada BBM non-subsidi jenis solar, dapat dilakukan," ujar Robert kepada Kompas.com, Minggu (28/6/2026).

Desakan dari Komisaris Utama: Iwan Bule Minta Penyesuaian Segera

Dorongan untuk merealisasikan penurunan harga datang dari jajaran dewan komisaris. Mochamad Iriawan, yang akrab disapa Iwan Bule, meminta direksi PT Pertamina (Persero) segera membahas penyesuaian harga BBM non-subsidi secara bertahap. Menurutnya, momentum penurunan harga minyak dunia tidak boleh disia-siakan.

"Yang pasti kami dari jajaran dewan komisaris mendorong direksi manajemen untuk segera menyesuaikan dengan harga minyak yang di dunia sudah mulai turun," kata Iwan dikutip dari Kompas.com (26/6/2026).

Iwan menjelaskan, harga BBM non-subsidi yang berlaku saat ini masih mengacu pada rata-rata harga minyak mentah beberapa waktu lalu. Saat itu, harga minyak berada di kisaran 80 dollar AS per barel akibat memanasnya konflik di kawasan Teluk.

Harga Minyak Sempat Turun, Namun Gejolak Geopolitik Kembali Meningkat

Peluang penurunan harga ini muncul setelah harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat merosot hingga sekitar 71 dollar AS per barel pada 26 Juni 2026. Penurunan ini dipicu oleh tercapainya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss.

Namun, situasi kembali berubah. Pada Senin (29/6/2026) pagi, harga minyak mentah dunia kembali menguat. Eskalasi terbaru ketegangan antara AS dan Iran memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran minyak paling krusial di dunia.

Dilansir dari Kontan, kontrak berjangka minyak Brent naik 52 sen atau 0,72 persen menjadi 72,51 dollar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah WTI menguat 71 sen atau 1,03 persen ke level 69,94 dollar AS per barel.

Kapan Realisasi Penurunan? Pertamina Masih Menunggu Kepastian

Meski ada desakan dari komisaris, Pertamina Patra Niaga belum bisa memastikan kapan tepatnya penurunan harga BBM non-subsidi akan direalisasikan. Robert Dumatubun menekankan bahwa keputusan tersebut sangat bergantung pada perkembangan harga minyak dunia dan kondisi geopolitik global ke depan.

"Kita semua berharap kondisi geopolitik dapat berangsur membaik sehingga menyebabkan harga minyak dunia kembali normal," katanya.

Artinya, bagi konsumen yang berharap harga BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Turbo segera turun di awal Juli 2026, masih harus bersabar. Pertamina akan terus memantau pergerakan harga minyak sebelum mengambil langkah konkret. Jika tren penurunan harga minyak berlanjut dan situasi geopolitik kondusif, barulah penyesuaian harga bisa diumumkan secara resmi.

Reporter: Ragil
Sumber: kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top