BANDA ACEH — Perbaikan infrastruktur pascabencana di Aceh menunjukkan perkembangan signifikan. Selain Jembatan Lawe Mengkudu I, Kementerian PU melalui Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Aceh juga menangani Jembatan Lumut di Aceh Tengah yang progres fisiknya sudah mencapai 73,80 persen, serta Jembatan Ulee Langa di Aceh Utara yang telah rampung 72,79 persen per 1 Juli 2026.
Jembatan lama di Aceh Tenggara itu dibongkar total dan digantikan dengan struktur baru yang dirancang lebih kuat. Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan aspek keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam setiap pekerjaan infrastruktur.
"Perbaikan dilakukan agar jembatan kembali aman dilalui sehingga konektivitas masyarakat dan distribusi logistik tetap terjaga," kata Menteri Dody dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.
Untuk Jembatan Lumut di Aceh Tengah, pekerjaan kini difokuskan pada pemasangan pasangan batu di sisi kiri dan kanan jalan pendekat. Langkah ini bertujuan meningkatkan stabilitas konstruksi sekaligus melindungi badan jalan dari potensi kerusakan akibat erosi atau longsor susulan.
Sementara itu, di Jembatan Ulee Langa, Aceh Utara, aktivitas konstruksi saat ini meliputi proses curing beton dan fabrikasi besi pelat injak. Kedua tahapan ini merupakan bagian akhir dari penyelesaian struktur jembatan.
Tidak hanya jembatan, Kementerian PU juga melakukan perbaikan permanen pada belasan ruas jalan nasional. Di Koridor Lintas Timur, penanganan mencakup 13 ruas jalan, antara lain Beureunuen–Batas Pidie Jaya, Meureudu–Bireuen, Peureulak–Langsa, hingga Kuala Simpang–Batas Sumatera Utara.
Di Lintas Barat, pekerjaan difokuskan pada dua ruas: Genting Gerbang – Celala – Batas Aceh Tengah/Nagan Raya dan Batas Aceh Tengah/Nagan Raya – Lhokseumot – Jeuram. Sementara di Lintas Tengah Aceh, sebanyak 13 jembatan dan 322 titik longsor sudah tertangani secara fungsional.
Dari total 13 jembatan yang rusak di Lintas Tengah, sebanyak 10 di antaranya akan ditangani secara permanen pada tahun ini. Lokasi perbaikan tersebar di wilayah Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, hingga Bener Meriah.
Pekerjaan yang dilakukan tidak hanya memperbaiki badan jalan dan jembatan, tetapi juga memperkuat lereng dan tebing sungai untuk meminimalisir risiko bencana di masa depan. Pemerintah berkomitmen menjaga kemantapan konektivitas jalan nasional di Aceh, termasuk pada ruas-ruas yang membutuhkan penanganan darurat.