BANDA ACEH — Kepala BPKS Iskandar Zulkarnaen menegaskan bahwa pengembangan pelabuhan strategis di Sabang dan Kepulauan Andaman-Nicobar bukan sekadar wacana. Ia menyebut konektivitas ini adalah prospek emas yang akan mengaktifkan kembali fungsi Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas sejak awal didirikan.
“Kami sebagai pelaksana mendukung penuh komitmen Presiden RI bersama Pemerintah India untuk memperkuat konektivitas laut. Pengembangan pelabuhan strategis di Sabang, Aceh serta Kepulauan Andaman dan Nicobar, India menjadi penggerak utama mendorong hubungan ekonomi sekaligus mempererat kerja sama kedua negara,” kata Iskandar saat dihubungi dari Banda Aceh, Rabu.
Menurut Iskandar, posisi geografis Sabang yang berhadapan langsung dengan Port Blair dan Havelock di India membuat rute ini sangat efisien. Dengan jarak tempuh kurang dari 200 kilometer, biaya logistik bisa ditekan drastis dibandingkan jalur pelayaran konvensional melalui Selat Malaka.
“Ini langkah paling prospektif untuk menjalin hubungan dagang dan bisnis, serta membuka akses interaksi ekonomi di kawasan perbatasan,” ujarnya.
Iskandar menyebut sejumlah kementerian dan lembaga akan segera menyusun peta jalan kerja sama. Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, dan kementerian yang membidangi infrastruktur menjadi pihak yang paling berkepentingan.
“Mereka bisa segera menyusun peta jalan konkret untuk kerja sama tersebut,” tambahnya.
Iskandar menjelaskan bahwa kerja sama ini berakar dari dokumen “Shared Vision of Maritime Cooperation in the Indo-Pacific”. Kesepakatan itu menekankan penguatan konektivitas laut, termasuk rencana pengembangan Sabang–Port Blair/Havelock, integrasi jalur pelayaran, wisata bahari, serta penguatan infrastruktur kepelabuhanan.
Pada 2018, terjadi kesepakatan tingkat kepala pemerintahan Indonesia–India yang memandatkan Sabang sebagai titik strategis kerja sama maritim. Setahun kemudian, Joint Task Force (JTF) ke-1 dibentuk di Banda Aceh dan menyepakati rencana aksi konektivitas Aceh–Andaman & Nicobar.
Pemerintah India kemudian menugaskan RITES Ltd., BUMN India di bidang konsultan transportasi, untuk melakukan pra-studi kelayakan Pelabuhan Sabang. Studi itu dilanjutkan pada 2020 dengan fokus pada pengembangan Sabang Port.
Dengan adanya komitmen baru dari Presiden Prabowo dan PM Modi, Iskandar optimistis realisasi konektivitas ini tidak lagi sekadar rencana di atas kertas. Sabang, yang selama ini dikenal sebagai kota wisata bahari, kini bersiap menjadi simpul perdagangan internasional di ujung barat Indonesia.