Komunitas Sahabat Hijau Dorong Warga Banda Aceh Kelola Sampah dari Rumah Lewat Program Waste Collecting Point

Penulis: Fajar  •  Kamis, 09 Juli 2026 | 16:03:31 WIB
Komunitas Sahabat Hijau menggelar sosialisasi Waste Collecting Point di Banda Aceh untuk mendorong pengelolaan sampah dari rumah.

BANDA ACEH — Persoalan sampah di Kota Banda Aceh tidak bisa lagi hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Komunitas Sahabat Hijau menawarkan solusi konkret melalui sosialisasi Waste Collecting Point (WCP) yang digelar di Gedung PKK Gampong Kopelma Darussalam, Rabu (8/7/2026). Program ini mendorong warga memilah sampah langsung dari sumbernya, yaitu rumah tangga.

Volume Sampah Capai 259 Ton per Hari, TPA Kian Terbatas

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup, rata-rata timbulan sampah di Banda Aceh mencapai 259,94 ton per hari. Sampah tersebut berasal dari rumah tangga, perkantoran, pasar, pusat perdagangan, hingga fasilitas umum. Akibatnya, kapasitas TPA Kota Banda Aceh semakin terbatas, dan sebagian sampah harus dialihkan ke TPA Regional Blang Bintang.

Ketua Komunitas Sahabat Hijau, Muhamad Fathan Mubina, menegaskan bahwa kebiasaan memilah sampah dari rumah menjadi kunci utama dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA. "Hari Bebas Sampah Plastik Sedunia menjadi momentum untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan. Kami ingin mendorong warga agar mulai memilah sampah sejak dari rumah, sehingga sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir dapat berkurang," ujarnya.

WCP: Satu Titik Kumpul untuk 20–30 Rumah Tangga

Program Waste Collecting Point dirancang sebagai sistem pengelolaan sampah terpusat yang dikelola langsung oleh masyarakat. Dalam satu fasilitas WCP, pengelolaan sampah melibatkan sekitar 20 hingga 30 rumah tangga. Pemateri dari Sahabat Hijau, Satar, menjelaskan bahwa WCP bukan sekadar tempat mengumpulkan sampah, melainkan sarana membangun kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.

"Jika dilakukan secara konsisten, volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir akan berkurang secara signifikan," kata Satar.

Dari Komposting hingga Eco Enzyme: Gaya Hidup Minim Sampah

Menurut Satar, pengelolaan sampah yang baik harus dimulai dari hulu. Langkahnya mencakup pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, penerapan gaya hidup minim sampah (less waste lifestyle), hingga pemanfaatan kembali sampah melalui komposting, bank sampah, budidaya maggot, dan pembuatan eco enzyme. Semua metode ini dianggap mampu memberikan nilai ekonomi bagi warga.

Muhamad Fathan Mubina menambahkan, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah. Masyarakat memiliki peran penting dalam mengurangi timbulan sampah melalui kebiasaan memilah dari rumah. "Kalau masyarakat mulai memilah sampah dari rumah, maka beban TPA bisa berkurang. Ini menjadi langkah sederhana, tetapi dampaknya sangat besar bagi keberlanjutan lingkungan," tutupnya.

Reporter: Fajar
Sumber: dialeksis.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top