7 Komunitas Hobi Aktif di Aceh yang Bisa Kamu Ikuti Lengkap dengan Lokasi dan Biaya Iuran

Penulis: Ragil  •  Jumat, 10 Juli 2026 | 22:24:01 WIB
Jalan Tgk Chik Pante Kulu menjadi titik kumpul komunitas sepeda gunung setiap Minggu subuh di Banda Aceh.

Jalan Tgk Chik Pante Kulu di Banda Aceh setiap Minggu subuh selalu ramai oleh puluhan sepeda gunung. Tak jauh dari sana, di lapangan futsal Ulee Kareng, anak-anak muda sibuk memanah target dari jarak 18 meter. Aceh selama ini dikenal sebagai daerah syariat, tapi denyut komunitas hobinya sama hidupnya dengan kota besar lain. Hanya saja, informasinya jarang tersebar luas.

Lewat pengalaman bergabung dan ngobrol langsung dengan beberapa pengurus, saya menyusun daftar ini. Bukan sekadar nama grup WhatsApp, tapi komunitas yang benar-benar punya jadwal ketemu rutin dan struktur organisasi jelas. Cocok buat warga lokal yang bosan di rumah, atau perantau yang baru pindah ke Aceh dan butuh teman.

1. Aceh Trail Runner

Basecamp di Taman Sari, Banda Aceh, setiap Sabtu jam 06.00 WIB. Komunitas ini spesifik lari trail di jalur perbukitan Cot Lamkuweuh dan Gunung Seulawah Agam. Jarak tempuh latihan bervariasi, dari 5K pemula sampai 21K untuk persiapan event.

Biaya iuran sukarela, biasanya Rp20.000 per bulan untuk kas konsumsi dan air mineral saat long run. Tidak ada syarat pace tertentu. Cukup punya sepatu trail atau minimal sepatu lari dengan grip dalam. Mereka juga rutin mengadakan clean trail setiap tiga bulan sekali.

2. Mapala Sylah Kuala (Mapala USK)

Bukan sekadar UKM kampus. Mapala Sylah Kuala terbuka untuk umum di luar mahasiswa USK, khususnya untuk kegiatan panjat tebing dan susur gua. Latihan panjat dilakukan di wall climbing GOR USK setiap Rabu dan Jumat sore.

Untuk anggota non-mahasiswa, iuran Rp50.000 per bulan. Peralatan awal seperti harness dan carabiner bisa dipinjam selama masa orientasi. Mereka sering ekspedisi ke Gua Putri di Aceh Tengah dan tebing Lhoknga.

3. Komunitas Sepeda Ontel Banda Aceh (KOSBA)

Gowes santai dengan sepeda onthel klasik. Rute favorit mereka adalah dari Tugu Simpang Jam sampai kawasan Peunayong, lalu putar balik ke Masjid Raya Baiturrahman. Kecepatan rata-rata 15 km/jam—santai, banyak berhenti untuk foto.

Tidak ada iuran. Cukup punya sepeda onthel (bisa beli bekas di Peunayong mulai Rp500.000). Kopdar setiap Minggu pagi jam 07.00 di halaman parkir Masjid Raya. Mereka juga sering diajak event pemerintah untuk meramaikan car free day.

4. Aceh Photography Club (APC)

Berpusat di Cafe Potret, Jalan Sultan Malikul Saleh, Lampriet. Komunitas ini fokus pada fotografi landscape dan street photography. Setiap bulan ada hunting bareng ke lokasi seperti Pelabuhan Ulee Lheue atau sawah terasering di Jantho.

Iuran Rp30.000 per bulan untuk sewa ruang diskusi dan editor tamu. Tidak perlu kamera mahal—anggota paling aktif malah pakai kamera HP. Mereka juga punya kelas editing Lightroom dasar gratis untuk anggota baru.

5. Komunitas Arung Jeram Aceh (KAJA)

Basecamp di Desa Lawe Kinga, Kecamatan Bambel, Aceh Tenggara. Sungai Alas jadi andalan utama dengan kelas jeram III-IV. Latihan rutin dilakukan setiap dua minggu sekali, tergantung debit air.

Biaya partisipasi Rp100.000 per orang per trip, sudah termasuk perahu, dayung, dan pelampung. Transportasi dari Banda Aceh ke lokasi sekitar 6 jam. Komunitas ini sudah mengirim atlet ke Pekan Olahraga Nasional (PON).

6. Komunitas Memanah Banda Aceh (KMBA)

Latihan di Lapangan Tembak Rindam Iskandar Muda, Jalan Teuku Nyak Arief. Panahan standar Olimpiade dengan jarak 18 meter untuk pemula dan 30 meter untuk lanjutan. Waktu latihan Senin dan Kamis pukul 16.00-18.00 WIB.

Iuran Rp40.000 per bulan. Busur dan anak panah disediakan untuk 3 bulan pertama. Setelah itu, anggota biasanya mulai beli peralatan sendiri mulai dari Rp1,5 juta. Komunitas ini cukup ketat soal syariat: anggota perempuan diwajibkan memakai cadar atau masker penutup wajah saat latihan.

7. Komunitas Vespa Banda Aceh (Vespa Lovers Aceh)

Kopdar setiap Sabtu malam di parkir Stadion H. Dimurthala, Lampineung. Motor Vespa klasik, bukan matik modern. Mereka sering touring ke Sabang atau Takengon.

Tidak ada iuran bulanan. Syarat utama: punya Vespa 2-tak tahun 1980-an ke bawah. Kalau belum punya, biasanya anggota lama bisa bantu cari unit bekas mulai Rp3 juta. Touring ke Sabang ongkos feri ditanggung sendiri, sekitar Rp60.000 pulang-pergi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah komunitas hobi di Aceh terbuka untuk non-muslim?
Ya. Beberapa komunitas seperti Aceh Trail Runner dan Aceh Photography Club memiliki anggota non-muslim. Tidak ada perlakuan berbeda, hanya perlu menghormati jam ibadah saat latihan.

Berapa biaya rata-rata iuran bulanan?
Kisaran Rp20.000 hingga Rp100.000 per bulan. Komunitas sepeda onthel dan vespa biasanya gratis, hanya bayar biaya sendiri saat touring.

Bagaimana cara bergabung tanpa kenal anggota?
Datang langsung ke lokasi kopdar sesuai jadwal. Kenalkan diri, bilang mau gabung. Tidak perlu malu—komunitas di Aceh terkenal ramah sama pendatang baru.

Apakah ada komunitas hobi khusus perempuan di Aceh?
Belum ada komunitas yang eksklusif perempuan. Tapi di KMBA (memanah) dan Aceh Trail Runner, jumlah anggota perempuan hampir 40% dari total anggota.

Komunitas mana yang paling aktif di luar Banda Aceh?
Komunitas Arung Jeram Aceh (KAJA) di Aceh Tenggara paling aktif di luar Banda. Mereka punya jadwal tetap dan even tahunan yang didukung pemda setempat.

Komunitas-komunitas ini membuktikan bahwa Aceh bukan sekadar daerah syariat yang kaku. Di sini orang tetap lari di bukit, memanah target, dan mengayuh vespa tua di jalanan kota. Kalau baru pindah ke Aceh, datang saja ke salah satu kopdar—paling tidak dapat teman ngopi selesai latihan.

Reporter: Ragil
Back to top