Gas Andaman Bisa Ubah Ekonomi Aceh, Tapi Ada Satu Syarat Penting

Penulis: Ragil  •  Sabtu, 11 Juli 2026 | 16:50:01 WIB
Penemuan gas Andaman diproyeksikan mendongkrak ekonomi Aceh dengan syarat hilirisasi industri migas.

ACEH — Penemuan gas di kawasan Andaman, khususnya di sumur Layaran dan Tangkulo Deep-1, menjadi angin segar bagi industri migas Indonesia. Pemerintah bahkan menempatkan Blok Andaman sebagai proyek strategis nasional untuk mengejar target produksi 12 miliar kaki kubik gas per hari (BSCFD) pada 2030.

Tapi bagi warga Aceh, kabar ini membawa rasa campur aduk. Di satu sisi, ada harapan. Di sisi lain, ada trauma masa lalu yang belum sepenuhnya hilang.

Bayang-Bayang Masa Lalu yang Belum Usai

Aceh pernah menjadi pusat gas alam cair dunia berkat kilang Arun LNG. Di era Orde Baru, kilang itu menjadi salah satu penopang utama penerimaan negara. Namun, sistem yang sentralistis membuat sebagian besar keuntungan mengalir ke pusat, sementara daerah penghasil hanya mendapat sisanya.

Pertanyaan wajar pun muncul: apakah Andaman akan mengulang kisah yang sama? Atau justru menjadi titik balik bagi pembangunan Aceh?

Berbagai aspirasi mulai mengemuka. Mulai dari tuntutan hilirisasi gas, optimalisasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, hingga desakan agar masyarakat Aceh mendapat manfaat lebih besar. Semua ini adalah upaya agar sejarah tak terulang.

Perdebatan Offshore vs Onshore, Apa yang Lebih Penting?

Sayangnya, diskursus publik mulai bergeser ke arah yang kurang produktif. Perdebatan mengenai apakah fasilitas produksi harus dibangun di lepas pantai (offshore) atau di darat (onshore) mendominasi pembicaraan.

Padahal, menurut dokumen Plan of Development (PoD), keputusan teknis semacam itu selalu didasarkan pada karakteristik reservoir, keselamatan operasi, keekonomian proyek, hingga kepastian pasar. Tidak ada satu konsep yang secara otomatis lebih baik dari yang lain.

Pertanyaan yang jauh lebih strategis adalah: bagaimana Aceh bisa memperoleh manfaat ekonomi terbesar dari gas Andaman?

Hilirisasi: Kunci agar Gas Tak Sekadar Komoditas

Pemerintah Aceh telah menyampaikan pandangan yang visioner: gas Andaman jangan hanya dipandang sebagai sumber dana bagi hasil. Royalti dan bagi hasil memang penting, tapi itu bukan jaminan kemakmuran jangka panjang.

Negara-negara yang berhasil keluar dari ketergantungan sumber daya alam adalah mereka yang mampu membangun industri hilir, memperluas lapangan kerja, dan mengembangkan perusahaan lokal.

Aceh sebenarnya punya modal besar. KEK Arun Lhokseumawe memiliki infrastruktur pelabuhan, kawasan industri, jaringan utilitas, dan sumber daya manusia yang berpengalaman. Ditambah kedekatan dengan jalur pelayaran internasional, kawasan ini sangat potensial menjadi pusat industri metanol, amonia, petrokimia, hingga hidrogen.

Nilai tambah dari industri hilir jauh lebih besar dibandingkan menjual gas sebagai komoditas primer. Dari pengalaman global, manfaat terbesar gas bumi bukan dari produksi dan penjualannya, melainkan dari ekosistem industri yang tumbuh di sekitarnya.

Namun, hilirisasi tak akan terjadi otomatis. Butuh kepastian pasokan gas domestik, harga yang kompetitif, kebijakan investasi yang menarik, infrastruktur logistik yang memadai, dan tenaga kerja lokal yang siap. Tanpa itu semua, gas Andaman hanya akan menjadi cerita lama yang berulang.

Reporter: Ragil
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top