Media di Aceh dan Perhatian Publik: Antara Agenda Institusi dan Kenyataan Masyarakat yang Tak Terliput

Penulis: Sutomo  •  Selasa, 14 Juli 2026 | 11:20:01 WIB
Pelantikan dan peresmian mendominasi pemberitaan media di Aceh, sementara isu masyarakat seperti pendidikan dan lapangan kerja minim sorotan.

BANDA ACEH — Media bukan sekadar menyampaikan berita, melainkan ikut menentukan apa yang dianggap penting untuk dipikirkan publik. Namun, Ari J. Palawi, praktisi dan akademisi seni dari Aneuk Mukim Kayee Adang, Banda Aceh, menilai bahwa proporsi pemberitaan saat ini tidak lagi mencerminkan kebutuhan masyarakat.

“Ruang pemberitaan hampir selalu dipenuhi pelantikan, peresmian, konferensi pers, penandatanganan kerja sama, seminar, penghargaan, dan berbagai agenda kelembagaan,” tulisnya dalam sebuah opini yang dimuat SAGOE TV.

Mengapa Persoalan Warga Jarang Bertahan di Halaman Depan?

Menurut Ari, persoalan seperti kualitas pendidikan yang belum merata, ruang kreatif yang menyusut, kesempatan kerja yang sempit, hingga usaha kecil yang bertahan tanpa dukungan, hanya sesekali muncul di media. Isu-isu itu cepat bergeser oleh agenda berikutnya yang lebih siap dipublikasikan.

“Pada saat yang sama, kita masih berhadapan dengan kualitas pendidikan yang belum merata, ruang kreatif yang terus menyusut, kesempatan kerja yang semakin sempit, usaha-usaha kecil yang bertahan tanpa banyak dukungan,” ujarnya.

Kesenjangan Perangkat: Institusi vs. Kehidupan Masyarakat

Ari menjelaskan bahwa institusi memiliki perangkat komunikasi yang bekerja setiap hari—humas, dokumentasi, data, juru bicara, hingga strategi distribusi informasi yang profesional. Semua itu memudahkan kerja redaksi. Sebaliknya, kehidupan masyarakat tidak pernah bekerja seperti itu.

“Ia tidak mengirim siaran pers. Ia tidak menjadwalkan konferensi pers. Ia tidak memiliki tim media yang memastikan setiap persoalan memperoleh ruang pemberitaan. Kenyataan hadir apa adanya. Kalau tidak dicari, ia sering kali tidak terlihat,” tulisnya.

Teknologi Memperumit, Media Profesional Harus Berbeda

Perubahan teknologi membuat keadaan semakin rumit. Hampir semua institusi kini mampu memproduksi informasi berkualitas, sementara media sosial menjadikan perhatian sebagai komoditas. Yang paling cepat, paling emosional, dan paling ramai lebih mudah menguasai ruang publik.

Menurut Ari, nilai media profesional justru lahir dari kemampuannya memeriksa informasi, menyusun konteks, menghubungkan berbagai peristiwa, lalu menghadirkannya dalam ukuran yang lebih adil. “Media dapat memilih jalan yang paling mudah dengan menunggu informasi datang ke meja redaksi. Namun media juga dapat memilih pekerjaan yang jauh lebih sulit: mendatangi kenyataan yang tidak pernah mengirim undangan,” katanya.

Keseimbangan Pemberitaan: Bukan Memusuhi Institusi, Tapi Menjaga Proporsi

Ari menegaskan bahwa ia tidak percaya ruang publik akan sehat jika hanya dipenuhi agenda institusi. Namun, ia juga tidak percaya media harus memusuhi pemerintah, kampus, atau partai politik. Semua memiliki peran yang sah dalam kehidupan publik.

“Yang perlu terus dijaga adalah keseimbangannya. Sebab masyarakat tidak hidup hanya dari kebijakan, pelantikan, pidato, atau seremoni. Masyarakat hidup dari pekerjaan, pendidikan, kebudayaan, ruang belajar, ruang berkarya, ruang bertemu, dan berbagai pengalaman yang sering berlangsung tanpa sorotan kamera,” ujarnya.

Apa yang Terus Diabaikan Akan Hilang dari Ingatan Bersama

Menurut Ari, media bukan hanya mencatat apa yang terjadi hari ini, tetapi ikut menentukan pengalaman apa yang akan diingat oleh sebuah masyarakat beberapa tahun kemudian. “Apa yang terus diberitakan akan menjadi ingatan bersama. Apa yang terus diabaikan perlahan menghilang, seolah tidak pernah menjadi bagian penting dari perjalanan kita,” tulisnya.

Ia menutup tulisannya dengan sebuah pertanyaan reflektif: “Apakah perhatian publik masih tumbuh dari kenyataan yang benar-benar dialami masyarakat, atau mulai lebih banyak mengikuti siapa yang paling siap menjadi berita?”

Reporter: Sutomo
Sumber: sagoetv.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top