Bayangkan Anda baru turun dari pesawat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang. Tas tangan kosong, tapi hati sudah penuh cerita. Sebelum pulang ke kota asal, ada satu misi yang tidak boleh gagal: membawa pulang rasa Aceh. Bukan sekadar camilan, tapi sesuatu yang benar-benar merepresentasikan tanah yang pernah disinggahi para saudagar dan ulama ini.
Dari pesisir timur hingga barat, setiap sudut Aceh punya ciri khasnya sendiri. Berikut sepuluh oleh-oleh yang paling dicari, dari yang sudah mendunia hingga yang baru mulai dikenal.
Ini bukan sekadar kopi. Kopi Arabika Gayo yang tumbuh di dataran tinggi Tanah Gayo, Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, punya profil rasa yang khas: body pekat, acidity rendah, dengan aftertaste herbal yang sulit ditemukan di daerah lain. Biji kopi ini bahkan menjadi komoditas ekspor utama Aceh ke Eropa dan Amerika Serikat.
Bawalah pulang dalam bentuk green bean (biji mentah) jika Anda punya alat sangrai sendiri, atau beli yang sudah di-roasting. Untuk pengalaman yang lebih autentik, cari kopi yang disangrai dengan teknik tradisional. Hindari membeli di kios bandara jika ingin variasi rasa yang lebih kaya.
Pala adalah salah satu rempah yang membuat penjajah dulu berlomba datang ke Nusantara. Di Aceh, buah pala diolah menjadi sirup kental berwarna cokelat gelap dengan aroma yang langsung tercium begitu botol dibuka. Rasanya manis legit dengan sedikit sensasi hangat di tenggorokan.
Sirup pala paling nikmat diminum dengan es batu dan perasan jeruk nipis. Beberapa produsen rumahan di sekitar Banda Aceh dan Aceh Selatan masih memproduksinya secara tradisional tanpa pengawet. Cari yang botolannya masih disegel lilin.
Bolu kering adalah kue khas Aceh yang teksturnya renyah di luar, tapi lembut di dalam. Berbeda dengan kue kering kebanyakan yang cenderung keras, bolu kering Aceh punya pori-pori halus dan rasa butter yang kuat. Varian paling populer adalah rasa original dan cokelat.
Kue ini tahan hingga dua minggu dalam toples kedap udara, cocok untuk oleh-oleh perjalanan jauh. Banyak toko oleh-oleh di kawasan Peunayong, Banda Aceh, yang menjualnya dalam kemasan toples plastik atau kotak kardus.
Aceh punya garis pantai panjang, dan hasil lautnya melimpah. Abon ikan tongkol khas Aceh berbeda dengan abon sapi dari Jawa. Seratnya lebih halus, warnanya cokelat keemasan, dan bumbunya lebih kering. Rasanya gurih dengan sentuhan pedas yang tidak berlebihan.
Abon ini bisa langsung dimakan dengan nasi hangat atau dijadikan isian lemper. Pastikan kemasannya vakum agar tidak lembap selama perjalanan. Beberapa produsen di kawasan Ulee Lheue menjualnya dalam kemasan pouch 250 gram.
Dodol Aceh punya tekstur lebih kenyal dan padat dibanding dodol dari daerah lain. Warnanya hitam pekat karena proses karamelisasi gula aren yang lama. Rasanya manis legit dengan aroma daun pandan yang kuat. Dodol ini sering dipotong kecil-kecil dan dibungkus plastik kiloan.
Varian yang paling populer adalah dodol srikaya—meski namanya srikaya, bahan dasarnya tetap tepung ketan dan gula aren, hanya ditambah santan kental. Cocok untuk oleh-oleh karena tidak mudah basi dalam suhu ruang.
Ubi ungu banyak ditanam di dataran tinggi Aceh, terutama di daerah Takengon. Keripiknya berwarna ungu alami tanpa pewarna tambahan. Rasanya gurih dengan sedikit rasa manis alami dari ubinya. Ketebalannya pas, tidak terlalu tipis sehingga tidak mudah hancur di dalam tas.
Banyak pedagang di Paya Ilang, Takengon, yang menjual keripik ini dalam kemasan standing pouch. Harganya bervariasi tergantung ukuran kemasan. Cek langsung ke lapak untuk mendapatkan yang paling segar.
Songket bukan sekadar kain. Setiap helai benang emas yang ditenun di alat tenun tradisional mengandung filosofi tentang kehormatan dan martabat masyarakat Aceh. Motif-motifnya terinspirasi dari alam: pucuk rebung, bunga lawang, hingga geometri masjid.
Kain songket asli bisa dikenakan sebagai selendang, sarung, atau dibuat menjadi kemeja. Pusat kerajinan songket terbesar ada di desa Siem, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar. Proses pembuatan satu lembar kain bisa memakan waktu berminggu-minggu.
Minyak kayu putih dari Aceh dikenal dengan aromanya yang lebih tajam dan hangat dibanding produksi daerah lain. Ini karena bahan bakunya—daun kayu putih—tumbuh di tanah kapur yang kering di kawasan Aceh Utara dan Aceh Timur. Minyak ini sering digunakan sebagai obat gosok untuk masuk angin dan pegal linu.
Beli yang dalam botol kaca gelap agar kualitasnya terjaga. Hindari yang kemasan plastik bening karena sinar matahari bisa menurunkan khasiatnya. Beberapa produsen di Lhokseumawe masih menyuling secara tradisional dengan kayu bakar.
Emping melinjo khas Aceh berbeda dengan emping dari daerah lain. Ukurannya lebih besar, ketebalannya sedang, dan proses penjemurannya menggunakan sinar matahari langsung—bukan oven. Hasilnya adalah emping yang gurih dengan sedikit rasa pahit khas melinjo yang tidak berlebihan.
Emping ini paling enak digoreng dengan minyak kelapa asli. Cocok sebagai teman minum kopi di sore hari. Banyak dijual di pasar tradisional seperti Pasar Aceh di Banda Aceh dengan harga per kilogram.
Aceh punya tradisi panjang dalam seni tempa logam. Dari cetakan kue, cerek air, hingga hiasan dinding bermotif kaligrafi, semua dikerjakan secara manual dengan palu dan api. Desa Beurawe di Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, dikenal sebagai sentra pengrajin logam sejak abad ke-19.
Pilih kerajinan yang sudah dilapisi anti karat jika akan digunakan sebagai peralatan dapur. Untuk pajangan, pilih yang finishing-nya kasar dan alami karena itu menandakan buatan tangan, bukan cetakan pabrik.
Apa oleh-oleh khas Aceh yang paling tahan lama?
Kopi Gayo dan minyak kayu putih adalah yang paling tahan lama. Kopi bisa bertahan berbulan-bulan dalam kemasan vakum, sementara minyak kayu putih tidak punya tanggal kedaluwarsa selama disimpan di tempat gelap.
Di mana tempat belanja oleh-oleh Aceh yang lengkap?
Kawasan Peunayong di Banda Aceh adalah pusat oleh-oleh paling lengkap. Anda juga bisa mampir ke Pasar Aceh untuk mendapatkan harga yang lebih murah dengan sistem tawar-menawar.
Apakah songket Aceh bisa dicuci dengan mesin cuci?
Tidak disarankan. Songket asli harus dicuci tangan dengan air dingin dan sabun lembut. Jemur di tempat teduh, jangan di bawah sinar matahari langsung.
Berapa lama dodol Aceh bisa bertahan?
Dalam kemasan tertutup rapat di suhu ruang, dodol bisa bertahan hingga satu bulan. Jika disimpan di kulkas, bisa lebih lama.
Apa oleh-oleh khas Aceh yang cocok untuk vegetarian?
Kopi Gayo, emping melinjo, keripik ubi ungu, dan sirup pala semuanya berbasis tanaman dan aman untuk vegetarian.
Dari sepuluh pilihan di atas, Anda tidak perlu membawa semuanya. Cukup pilih yang paling sesuai dengan selera dan kebutuhan. Yang terpenting, setiap oleh-oleh yang Anda bawa pulang adalah cerita—tentang tanah yang subur, laut yang luas, dan tangan-tangan terampil yang tidak pernah berhenti berkarya. Selamat berburu oleh-oleh di Serambi Mekah.