Banjir Bandang Bireuen Hanyutkan Rumah dan Sekolah, Enam Siswa Jalani MPLS di Kelas Darurat Buatan Dompet Dhuafa

Penulis: Saiful  •  Jumat, 17 Juli 2026 | 15:22:31 WIB
Enam siswa kelas 4 SD Negeri 14 Juli mengikuti MPLS di kelas darurat yang dibangun Dompet Dhuafa dan Bridgestone pascabanjir bandang di Bireuen.

BIREUEN — Suara riang anak-anak kembali terdengar dari sebuah bangunan darurat di Desa Teupin Mane, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Rabu (15/7/2026). Enam siswa kelas 4 SD Negeri 14 Juli tengah mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di ruang kelas yang dibangun dari program pemulihan kemanusiaan Dompet Dhuafa dan Bridgestone.

Guru Kelas 4, Maryati, menceritakan bagaimana banjir bandang akhir tahun lalu meluluhlantakkan segalanya. Hujan deras yang mengguyur selama sepekan membuat air sungai meluap dan menerjang daratan sekolah.

“Setelah hujan deras seminggu tidak berhenti, suatu pagi, seluruh daratan sekolah ini sudah dipenuhi air. Beberapa bangunan sekolah ikut terbawa arus. Bahkan rumah saya sendiri pun hanyut oleh arus banjir,” kenang Maryati lirih.

Belajar di Tenda Sebelum Sekolah Darurat Hadir

Bencana itu memutus akses jalan dan Jembatan Teupin Mane. Sekolah terpaksa diliburkan, ujian ditiadakan, dan nilai siswa disesuaikan dengan keadaan. Denyut nadi pendidikan baru kembali berdetak pada 5 Januari 2026, namun kegiatan belajar mengajar hanya bisa dilakukan di bawah tenda darurat.

“Kalau belajar di dalam tenda itu rasanya sangat panas, anak-anak sering kali sulit berkonsentrasi juga. Suasana pun masih banyak sisa banjir, lumpur,” ungkap Maryati.

Kelas 4 Hanya Diisi Enam Siswa, Satu Pindah Mengungsi

Memasuki tahun ajaran baru, jumlah murid di kelas 4 SDN 14 Juli menyusut. Maryati menyebut dari tujuh siswa, satu di antaranya pindah karena tempat tinggalnya ikut hanyut dan keluarganya mengungsi ke lokasi lain. Secara keseluruhan, dari kelas satu hingga enam, sekolah ini memiliki 65 siswa.

Meski jumlahnya sedikit, semangat belajar tak surut. Di bawah bimbingan Maryati, keenam siswa itu mengikuti materi MPLS tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)—materi krusial di wilayah pascabencana agar mereka sadar akan kebersihan dan kesehatan.

Sekolah Darurat Jadi “Istana” bagi Anak-anak Korban Banjir

Bagi para siswa, sekolah darurat ini menjadi tempat berlindung untuk melupakan memori kelam banjir. Di sinilah mereka berbagi tawa dan membaca buku-buku yang tersisa. Dompet Dhuafa bersama Bridgestone bergerak cepat mendirikan bangunan tersebut setelah melihat urgensi pemulihan pendidikan di Bireuen.

Meski SDN 14 Juli masih kekurangan dua lokal kelas dan rencananya akan direlokasi ke tempat yang lebih aman, sekolah darurat ini telah menjadi “Rumoh Harapan Siap Sekolah” bagi warga setempat.

“Kami bersyukur karena bantuan ini mendorong kami untuk tetap semangat dalam belajar mengajar. Terima kasih Bridgestone, terima kasih Dompet Dhuafa. Sekolah Darurat ini sangat bermanfaat bagi kami,” ungkap Maryati.

Reporter: Saiful
Sumber: dompetdhuafa.org This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top