Kepala Pelaksana BPBD Aceh Besar, Ridwan Jamil, langsung turun tangan memberikan materi kebencanaan kepada peserta MPLS, Kamis (20/3). Ia menegaskan bahwa edukasi mitigasi harus dimulai sejak dini agar para siswa tidak hanya paham teori, tetapi juga hafal langkah evakuasi saat kondisi darurat.
"Aceh merupakan daerah yang memiliki potensi berbagai jenis bencana. Karena itu, edukasi mitigasi harus ditanamkan sejak dini," kata Ridwan di sela-sela kegiatan di Blang Bintang.
Dua Pilar Utama: Bangunan Kuat dan SDM Tangguh
Dalam pemaparannya, Ridwan menjelaskan bahwa program SPAB tidak hanya berfokus pada penguatan infrastruktur sekolah. Ada dua pendekatan yang dijalankan secara paralel: mitigasi struktural dan nonstruktural.
Mitigasi struktural mencakup penguatan fisik bangunan sekolah agar tahan terhadap guncangan gempa. Sementara mitigasi nonstruktural menyasar peningkatan kapasitas sumber daya manusia—siswa, guru, hingga staf tata usaha—agar memiliki refleks penyelamatan diri yang cepat.
"Mitigasi struktural dilakukan melalui penguatan fisik bangunan dan sarana prasarana sekolah agar lebih aman. Sementara mitigasi nonstruktural dilakukan dengan meningkatkan kapasitas siswa, guru, dan seluruh warga sekolah," ujarnya.
Target: Pelajar Jadi Pelopor Keselamatan di Rumah dan Kampung
BPBD Aceh Besar berharap pembekalan di MPLS ini tidak berhenti di lingkungan sekolah. Ridwan mendorong para siswa baru untuk menjadi agen perubahan yang menyebarkan budaya sadar bencana ke keluarga dan tetangga di kampung masing-masing.
"Kita berharap lewat pembekalan ini dapat meningkatkan kesadaran para peserta didik baru terhadap pentingnya kesiapsiagaan bencana, serta mendorong mereka menjadi pelopor keselamatan," kata Ridwan.
Ia menambahkan, penguatan SPAB merupakan komitmen jangka panjang BPBD Aceh Besar. Dengan membangun budaya tangguh bencana sejak bangku sekolah, risiko korban jiwa saat bencana besar di masa depan diharapkan bisa diminimalkan secara signifikan.