CALANG — Seorang bocah laki-laki tampak ragu melangkahkan kaki memasuki gerbang TKN Pembina Calang, Selasa pagi. Namun, sambutan hangat dari Desi Maulidar yang langsung berjongkok menyapanya membuat senyum si anak merekah. Momen itu menjadi gambaran suasana MPLS Ramah Anak yang tengah dijalankan di Aceh Jaya.
“Anak-anak harus merasakan bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Dengan pengalaman positif sejak hari pertama, mereka akan lebih mudah beradaptasi, percaya diri, dan memiliki semangat untuk belajar,” ujar Desi yang akrab disapa Bunda PAUD tersebut.
Bukan Sekadar Adaptasi, Guru Juga Harus Peka
Dalam peninjauan yang didampingi Pj Bunda PAUD Kecamatan Krueng Sabee itu, Desi tidak hanya menyapa murid. Ia berdialog dengan para guru untuk memastikan kegiatan MPLS berjalan sesuai prinsip ramah anak.
Menurutnya, MPLS menjadi kesempatan bagi tenaga pendidik untuk mengenali karakter, minat, serta potensi setiap anak sejak dini. Dengan begitu, layanan pendidikan bisa disesuaikan dengan kebutuhan tumbuh kembang masing-masing anak. “Guru harus jadi sahabat pertama di sekolah,” tambahnya.
Gerakan Ayah Antar Anak ke Sekolah Digaungkan
Di sela kunjungan, Desi melontarkan ajakan yang jarang terdengar di forum-forum resmi. Ia meminta para ayah untuk lebih aktif terlibat dalam proses pendidikan anak. Bukan sekadar urusan ibu, kehadiran ayah dinilai punya pengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan rasa percaya diri anak.
Ajakan itu sejalan dengan Surat Edaran Bupati Aceh Jaya Nomor 400.13.1/11/2026. Regulasi itu mengatur dua gerakan sekaligus: Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak dan Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah. “Kehadiran ayah saat mengantar atau mengambil rapor memberikan motivasi yang berbeda bagi anak,” kata Desi.
Target: MPLS Ramah Anak Jadi Budaya Sekolah
Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya berharap pelaksanaan MPLS Ramah Anak tidak berhenti pada seremoni tahunan. Lingkungan belajar yang inklusif, aman, dan penuh kasih sayang harus menjadi budaya di setiap satuan pendidikan.
Dari TKN Pembina Calang hingga TKN Putroe Aceh, semangat itu coba ditularkan. Desi optimistis, jika sekolah benar-benar menjadi tempat yang menyenangkan, maka lahir generasi Aceh Jaya yang cerdas, berkarakter, kreatif, dan berakhlak mulia. “Hari pertama sekolah adalah fondasi. Jangan sampai anak trauma,” pungkasnya.