ACEH — Data terbaru menunjukkan proporsi pemilik mobil yang mengalami negative equity—utang sisa lebih besar dari nilai jual kendaraan—kini mendekati sepertiga dari total populasi pemilik mobil di AS. Rata-rata selisih negatif mencapai US$6.800, angka yang terus membengkak seiring melambatnya depresiasi harga mobil bekas dan suku bunga kredit yang masih tinggi.
Faktor utama yang memperparah situasi adalah minimnya alternatif transportasi di daerah pedesaan. Dengan sedikit pilihan angkutan umum, warga di kawasan tersebut nyaris tak punya opsi selain tetap memiliki dan membayar cicilan mobil—meski nilai kendaraan sudah jatuh di bawah sisa utang.
“Tidak banyak alternatif transportasi, terutama di daerah pedesaan. Orang Amerika mungkin terpaksa terus berada di jalur utang yang tidak memberikan imbal hasil apa pun,” demikian bunyi pernyataan dari institusi yang merilis data tersebut. Kondisi ini menciptakan siklus sulit keluar, di mana pemilik tak bisa menjual mobil tanpa harus membayar selisih utang tunai.
Dengan kurs sekitar Rp 16.000 per dolar AS, rata-rata negative equity sebesar US$6.800 berarti setiap pemilik mobil yang terdampak menanggung kerugian sekitar Rp 109 juta. Jumlah ini belum termasuk bunga kredit yang terus berjalan. Bagi konsumen berpenghasilan menengah ke bawah, nominal tersebut bisa menggerus tabungan atau memaksa mereka menunda pembelian kendaraan baru.
Fenomena ini juga memengaruhi dinamika pasar otomotif. Konsumen yang terjerat negative equity cenderung menunda tukar tambah atau membeli mobil baru, karena selisih utang harus dilunasi lebih dulu. Dealer pun harus menyiapkan skema pembiayaan khusus untuk menutup gap tersebut, yang pada akhirnya menambah total pinjaman.
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menekan permintaan kendaraan baru di AS, terutama segmen entry-level yang paling sensitif terhadap harga dan ketersediaan kredit. Sementara itu, harga mobil bekas berpotensi terus terkoreksi seiring meningkatnya jumlah unit yang dilepas ke pasar karena pemilik terpaksa menjual.
Meskipun data ini spesifik untuk Amerika Serikat, pola serupa juga perlu diwaspadai di pasar Indonesia. Kredit kendaraan bermotor dengan tenor panjang dan uang muka rendah membuat risiko negative equity tetap ada, terutama ketika nilai jual kendaraan turun drastis di tahun-tahun awal. Konsumen disarankan mencermati skema kredit dan nilai sisa kendaraan sebelum mengambil keputusan pembelian.