ACEH — Lonjakan harga emas Antam ini membawa serta kenaikan signifikan pada harga beli kembali atau buyback. Selisih antara harga jual dan harga beli kembali hari ini mencapai Rp 252.000 per gram, atau sekitar 9,6 persen. Angka ini lebih sempit dibandingkan posisi akhir Januari 2026 ketika harga emas Antam menembus rekor tertinggi sepanjang masa di Rp 3.168.000 per gram, dengan selisih buyback mencapai Rp 179.000 per gram.
Berikut daftar lengkap harga emas batangan Antam untuk berbagai pecahan, sebagaimana tercantum di situs resmi Logam Mulia:
Perlu dicatat, harga tersebut adalah harga beli yang dibayarkan konsumen saat membeli emas dari Antam. Sementara harga buyback berlaku jika pemilik ingin menjual kembali logam mulianya ke Antam. Kedua harga bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan pasar.
Penguatan harga emas Antam sejalan dengan pergerakan emas global. Mengutip data perdagangan Jumat (24/7/2026), harga emas spot naik 0,3 persen ke US$ 4.060,47 per ounce, setelah sehari sebelumnya sempat merosot sekitar 2 persen. Secara mingguan, emas masih mencatat kenaikan lebih dari 1 persen, didorong aksi beli saat harga terkoreksi (dip-buying) di awal pekan.
Pedagang logam independen Tai Wong menilai emas mulai membentuk area penopang di kisaran US$ 3.950 per ounce. "Emas dan perak sedang membentuk area dasar harga, meski imbal hasil obligasi terus meningkat. Jika The Fed benar-benar menahan suku bunga pada rapat pekan depan, hal itu akan menjadi sentimen positif bagi emas," ujarnya.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent sempat melonjak lebih dari 7 persen ke atas US$ 100 per barel, dipicu klaim serangan kelompok Houthi terhadap dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Lonjakan minyak ini memicu kekhawatiran inflasi global, yang justru menjadi panggung bagi emas sebagai aset lindung nilai.
Namun, perlu diingat bahwa harga emas sebenarnya telah terkoreksi sekitar 23 persen sejak perang yang didukung Amerika Serikat dengan Iran pecah pada akhir Februari 2026. Koreksi ini dipengaruhi ekspektasi bahwa tekanan inflasi akibat perang dapat membuat suku bunga tetap tinggi dalam waktu lebih lama — faktor yang biasanya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil.
Bagi investor ritel Indonesia, momentum kenaikan buyback hari ini bisa menjadi sinyal untuk mencairkan posisi, atau sebaliknya, menambah kepemilikan jika yakin tren penguatan berlanjut. Yang pasti, volatilitas harga emas masih akan tinggi dalam waktu dekat, seiring dinamika geopolitik dan kebijakan moneter global yang belum mereda.