ACEH TIMUR — Nurhadijah, warga Dusun Tupien Siren, mengaku harus bangun pagi-pagi setiap hari demi berebut air di sumur masjid. “Setiap pagi masyarakat di sini berbondong-bondong datang ke sumur agar bisa mendapatkan air. Kalau datang terlambat, air sumurnya sudah habis,” ujarnya kepada Lingkas Pos, baru-baru ini.
Air yang mereka dapatkan bukanlah air jernih. Warnanya kekuningan, dan tak ada jaminan layak dikonsumsi. Bagi keluarga yang punya uang, membeli air dari luar masih jadi solusi. Namun, bagi warga kurang mampu, ongkos harian untuk air bersih menjadi beban tambahan yang berat.
Persoalan ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan ancaman kesehatan. Warga yang tak punya pilihan terpaksa menggunakan air kuning untuk minum dan memasak. Mereka mendesak instansi berwenang untuk segera memeriksa kualitas sumur yang menjadi satu-satunya sumber air di kampung mereka.
“Kalau masyarakat yang mampu, mungkin bisa membeli air yang didatangkan. Tapi bagaimana dengan masyarakat miskin? Mereka terpaksa menggunakan air yang ada, meskipun warnanya kuning,” kata Nurhadijah.
Nurhadijah juga meluapkan kekecewaan terhadap para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Timur. Menurutnya, hampir setahun pascabencana, tak satu pun wakil rakyat yang datang meninjau kondisi mereka di pedalaman.
“Kami heran, wakil yang telah kami pilih dulu, batang hidungnya pun tidak terlihat untuk melihat nasib kami di pedalaman,” ungkapnya dengan nada getir.
Ia menambahkan, kegiatan reses yang dijanjikan sebagai momen menyerap aspirasi tak pernah menyentuh Gampong Meunasah Asan. “Jangankan membantu kami, reses pun tidak dilakukan ke tempat kami. Padahal dulu mereka berjanji kepada kami bahwa keberadaan mereka adalah untuk membawa perubahan. Tapi kenyataannya, kami merasa janji itu belum kami rasakan,” ujarnya.
Banjir yang melanda Aceh Timur hampir setahun lalu telah surut, tetapi pemulihan infrastruktur dasar, terutama jaringan air bersih, mandek. Warga menuntut pemerintah daerah dan PDAM untuk tidak sekadar memberikan bantuan air bersih temporer, melainkan mempercepat penyelesaian distribusi pipa agar akses air bersih bisa berkelanjutan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak PDAM maupun Pemerintah Kabupaten Aceh Timur terkait penyebab aliran air bersih tak kunjung sampai ke permukiman warga. Warga berharap, keluhan mereka segera direspons dengan langkah nyata, bukan janji yang kembali menguap.