BANDA ACEH - Cakupan imunisasi anak di Aceh terus didorong naik lewat berbagai program kolaboratif antara Dinas Kesehatan, puskesmas, sekolah, dan kader Posyandu.
Imunisasi dianggap investasi kesehatan jangka panjang yang mampu mencegah penyakit menular seperti campak, rubella, polio, difteri, hepatitis B, tetanus, dan pertusis.
Pelaksanaannya tersebar di puskesmas, Posyandu, dan sekolah-sekolah di seluruh Banda Aceh.
Penetapan sebagai daerah percontohan diambil karena masih ditemukan kasus penyakit seperti campak di sejumlah wilayah, sehingga percepatan cakupan imunisasi jadi mendesak.
Puskesmas melayani imunisasi rutin, sementara Posyandu jadi ujung tombak di tingkat masyarakat — mencakup penimbangan, pemantauan tumbuh kembang, dan pemberian vitamin bagi balita.
Buat wilayah yang aksesnya terbatas, ada layanan Puskesmas Keliling yang membawa tenaga kesehatan langsung ke lingkungan warga, termasuk untuk kegiatan imunisasi tertentu.
Semakin tinggi cakupan imunisasi di suatu wilayah, semakin besar peluang tercipta kekebalan kelompok (herd immunity) yang melindungi bahkan mereka yang belum divaksin, seperti bayi baru lahir.
Program percepatan imunisasi ini diharapkan menekan risiko wabah penyakit yang sebenarnya bisa dicegah lewat vaksin rutin.