Prediksi BMKG Dasarian I Agustus 2026: BPBK Aceh Jaya Imbau Warga Pesisir Waspadai Kekeringan dan Karhutla

Penulis: Sutomo  •  Sabtu, 01 Agustus 2026 | 22:32:01 WIB
Warga melintasi area persawahan yang mulai mengering akibat minimnya curah hujan di kawasan pesisir Aceh Jaya, Aceh, Senin (3/8/2026).

CALANG — Distribusi hujan yang tidak merata di wilayah Aceh membuat potensi kekeringan lokal tetap mengintai, meski sebagian daerah lain diprediksi masih akan diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Aceh Jaya mengingatkan dampak ini bisa langsung dirasakan petani tadah hujan dan warga yang bergantung pada sumber air bersih.

Peringatan ini merujuk pada prediksi curah hujan probabilistik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk periode Dasarian I Agustus 2026. Wilayah pesisir disebut menjadi zona paling rentan mengalami kekeringan.

Daerah Pesisir Berpotensi Curah Hujan di Bawah 20 Milimeter

Kepala BPBK Aceh Jaya, A.G. Suhadi, menjelaskan prediksi BMKG menunjukkan sejumlah wilayah pesisir diperkirakan mengalami curah hujan sangat rendah. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa pengaruh musim kemarau masih mendominasi.

“Berdasarkan informasi BMKG, wilayah pesisir Aceh Besar dan pesisir Pidie berpotensi mengalami curah hujan di bawah 20 milimeter dengan peluang lebih dari 50 persen. Kondisi ini menunjukkan pengaruh musim kemarau masih cukup kuat,” ujar Suhadi, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Rendahnya curah hujan di kawasan pesisir ini berpotensi besar memicu kekeringan. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor pertanian dan perkebunan, tetapi juga mengancam ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Wilayah Timur dan Selatan Masih Berpeluang Hujan Lebat

Di sisi lain, BMKG memprediksi sejumlah kabupaten/kota di Aceh masih berpeluang menerima curah hujan lebih dari 50 milimeter. Wilayah tersebut meliputi Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, sebagian Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Kota Subulussalam, dan Aceh Singkil.

Meski begitu, Suhadi menegaskan bahwa tingginya curah hujan di sebagian wilayah tidak lantas menghilangkan risiko kekeringan di tempat lain. Ketidakmerataan distribusi hujan justru menjadi pemicu utama kekeringan lokal.

“Distribusi hujan yang tidak merata tetap berpotensi memicu kekeringan lokal, terutama pada lahan pertanian tadah hujan dan sumber air masyarakat,” katanya.

Langkah Antisipasi untuk Petani dan Masyarakat Umum

Menghadapi situasi ini, BPBK Aceh Jaya mengeluarkan sejumlah imbauan konkret. Masyarakat diminta untuk menggunakan air secara bijak dan hemat, terutama di wilayah yang masuk kategori rawan kekeringan.

Kewaspadaan juga ditingkatkan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. Cuaca kering membuat lahan mudah terbakar, sehingga aktivitas yang memicu api di area terbuka sebaiknya dihindari.

Para petani dan pelaku usaha perkebunan diimbau menyiapkan langkah antisipasi sejak dini. Hal ini penting jika musim kemarau ternyata berlangsung lebih panjang dari perkiraan awal.

BPBK Aceh Jaya memastikan pihaknya bersama pemerintah daerah dan instansi terkait terus memantau perkembangan cuaca. Langkah mitigasi disiapkan guna meminimalkan dampak bencana hidrometeorologi selama musim kemarau 2026.

Reporter: Sutomo
Sumber: portalnusa.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top