Laba KAI Terjun Bebas 73 Persen, Beban Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Kembali Jadi Biang Kerok

Penulis: Fajar  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 12:23:32 WIB
Laba bersih KAI Group pada semester I-2026 turun 73 persen menjadi Rp314,03 miliar.

ACEHKinerja KAI pada paruh pertama tahun ini ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, pendapatan usaha tumbuh sehat 6,6 persen menjadi Rp 17,96 triliun dibandingkan Rp 16,85 triliun pada semester I-2025. Laba kotor pun ikut menguat 18,81 persen ke posisi Rp 6,79 triliun, sementara laba usaha melesat 25,79 persen menjadi Rp 4,66 triliun.

Namun, pencapaian operasional itu tidak sejalan dengan laba bersih yang justru menyusut drastis. Berdasarkan laporan keuangan KAI Group (unaudited), laba sebelum pajak turun dari Rp 1,86 triliun menjadi hanya Rp 842,69 miliar. Adapun laba tahun berjalan susut dari Rp 1,18 triliun menjadi Rp 314,03 miliar.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menegaskan pertumbuhan pendapatan tetap menjadi modal utama perseroan. "Pertumbuhan pendapatan menjadi modal penting bagi KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan, kesiapan sarana dan prasarana, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (2/8/2026).

Beban PSBI dan KCIC yang Menggunung

Pemicu utama terkoreksinya laba KAI adalah melonjaknya rugi dari entitas asosiasi dan usaha patungan. Pada semester I-2025, beban ini tercatat Rp 948,20 miliar, namun enam bulan berikutnya meroket menjadi Rp 3,00 triliun.

Salah satu sumber terbesar adalah PSBI, perusahaan patungan yang menggenggam saham KCIC—operator Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh). PSBI masih mencatatkan rugi signifikan hingga Rp 5,13 triliun. Kondisi keuangannya pun kritis: total liabilitas Rp 21,54 triliun melampaui total asetnya yang sebesar Rp 21,52 triliun, alias teknis bangkrut (negative equity).

Beban inilah yang kemudian menyeret laporan konsolidasi KAI Group. Meski begitu, struktur neraca KAI secara umum masih solid. Total aset per 30 Juni 2026 tercatat Rp 104,79 triliun, dengan liabilitas yang membaik dari Rp 66,14 triliun (Desember 2025) menjadi Rp 65,11 triliun. Ekuitas ikut naik dari Rp 39,29 triliun menjadi Rp 39,69 triliun, dan utang jangka pendek berkurang dari Rp 16,20 triliun menjadi Rp 15,17 triliun.

Danantara:

Reporter: Fajar
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top