BANDA ACEH — Perputaran ekonomi di Aceh menunjukkan tren penguatan pada pertengahan tahun ini. Selain pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) yang mencapai 4,86 persen, surplus neraca perdagangan juga tercatat sekitar US$59 juta pada Juni 2026.
Data BPS yang dirilis akhir pekan lalu menempatkan ekspor Aceh pada Juni 2026 di angka US$85,31 juta. Nilai itu melonjak 61,31 persen dibandingkan bulan sebelumnya, ditopang komoditas batu bara, crude palm oil (CPO), dan kopi.
Lonjakan ekspor berbanding terbalik dengan impor yang merosot 75,15 persen. Kondisi ini membuat neraca perdagangan Aceh mencatat surplus signifikan, menjadi modal berharga bagi stabilitas ekonomi daerah.
“Peningkatan ekspor dan surplus perdagangan ini tentu kita sambut baik. Ke depan, yang perlu kita dorong adalah bagaimana memperkuat daya saing produk Aceh, memperluas pasar, serta meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi dan industri pengolahan,” ujar Nasir dalam keterangan resmi yang diterima di Banda Aceh.
Indikator lain yang turut membaik adalah pergerakan orang dan kunjungan wisatawan. Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda mencatat 22.502 penumpang domestik pada Juni, tumbuh 31,03 persen secara bulanan. Sementara angkutan laut melayani 116.406 penumpang, meningkat 32,58 persen dari Mei.
Dari sektor pariwisata, terdapat 2.553 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang Juni. Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang juga naik ke 29,38 persen, menandakan aktivitas ekonomi jasa mulai hidup kembali.
Pemerintah Provinsi Aceh berkomitmen menjaga momentum ini dengan memperkuat sektor pertanian, perkebunan, kelautan dan perikanan, industri pengolahan, UMKM, hingga ekonomi kreatif.
Nasir menambahkan, pertumbuhan ekonomi harus bermuara pada kesejahteraan masyarakat. Pihaknya menargetkan penambahan lapangan kerja dan penguatan daya beli warga melalui sinergi antara pemerintah, dunia usaha, perbankan, dan perguruan tinggi.
“Kita ingin lapangan kerja bertambah, daya beli masyarakat menguat, dunia usaha berkembang, dan semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat pembangunan,” kata Nasir.
Dengan koordinasi yang solid antar pemangku kepentingan, optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh yang semakin kokoh dan inklusif pada paruh kedua 2026 dinilai cukup beralasan.