Karhutla Aceh Tembus 247 Hektare hingga Juni 2026, Nagan Raya Jadi Wilayah Terluas Terbakar

Penulis: Ragil  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 13:56:31 WIB
Petugas pemadaman berupaya mengendalikan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Aceh yang tercatat mencapai 247 hektare hingga Juni 2026.

BANDA ACEH — Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat sedikitnya 20 kejadian Karhutla di Aceh pada periode 1 Januari hingga 6 Juni 2026. Kebakaran tersebut tersebar di 29 kecamatan dan 40 desa, dengan estimasi kerugian mencapai Rp 34,7 miliar.

Nagan Raya menjadi wilayah dengan dampak terluas, yakni sekitar 95 hektare lahan terbakar. Disusul Aceh Barat dengan 34,1 hektare, serta sejumlah kejadian di Lhokseumawe, Aceh Besar, dan Aceh Tengah.

Februari 2026: 103 Hektare Hangus dalam Empat Kejadian

BPBA mencatat pada Februari 2026 saja telah terjadi empat kejadian Karhutla yang menghanguskan sekitar 103 hektare lahan. Kerugian dari kejadian tersebut diperkirakan mencapai Rp 10 miliar.

Memasuki Juli, BNPB kembali mencatat Karhutla di Nagan Raya dengan luasan kebakaran mencapai 99 hektare pada pertengahan Juni. Di Lhokseumawe, satu kejadian pada Juli membakar sekitar 2 hektare lahan.

Karhutla Bukan Sekadar Persoalan Api

Dr. Ir. TM Zulfikar, S.T., M.P., IPU., ASEAN Eng., aktivis lingkungan Aceh, menilai cara pandang terhadap Karhutla selama ini keliru. Menurutnya, setiap musim kemarau perhatian hanya tertuju pada pemadaman api, sementara akar persoalan tidak pernah diselesaikan.

"Saatnya Indonesia berhenti sekadar memadamkan api dan mulai membenahi akar persoalan," ujarnya dalam tulisan yang dipublikasikan PORTALNUSA.

Ia menegaskan Karhutla bukan sekadar persoalan api, melainkan menyangkut tata ruang, tata kelola lahan, perlindungan hutan, pengelolaan gambut, perilaku manusia, penegakan hukum, hingga perubahan iklim.

Angka Nasional Meningkat 366 Persen, El Niño Mengintai

Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan indikasi luas Karhutla nasional pada Januari–Juni 2026 mencapai 107.465,47 hektare. Angka ini meningkat sekitar 366 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Sekitar 54 persen kebakaran terjadi di kawasan hutan dan 46 persen di areal penggunaan lain. BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia pada 2026 mengalami musim kemarau lebih kering dari normal, dengan 482 Zona Musim atau 56,18 persen luas daratan terdampak.

Potensi penguatan El Niño pada 2026 disebut dapat memperburuk kekeringan dan meningkatkan risiko Karhutla. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus.

Jangan Menyalahkan Cuaca Sepenuhnya

Zulfikar mengingatkan Karhutla tidak boleh terus dijelaskan semata-mata sebagai akibat kemarau dan El Niño. Kondisi kemarau memang meningkatkan kerentanan, tetapi api tetap membutuhkan sumber penyalaan.

"Dalam banyak kasus, faktor manusia tetap menjadi bagian penting dari persoalan, baik melalui pembukaan lahan maupun pembakaran," tulisnya.

Ia menambahkan angka yang tercatat tidak selalu menggambarkan seluruh persoalan di lapangan, karena tidak semua kebakaran terdeteksi dengan intensitas yang sama dan tidak semua kejadian kecil terdokumentasikan secara sempurna.

Reporter: Ragil
Sumber: portalnusa.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top