ACEH — Bencana yang melanda kawasan Himalaya ini bermula dari runtuhnya bagian bawah gletser pada Rabu (16/8). Puing-puing longsor sempat menyumbat aliran sungai sebelum akhirnya jebol dan melepaskan gelombang air serta lumpur ke permukiman di bawahnya.
Akibatnya, ratusan warga dilaporkan tewas. Selain itu, rumah, jalan, jembatan, dan infrastruktur lain di sejumlah desa mengalami kerusakan parah. Ratusan lainnya terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Donasi dari Apple ini bukan aksi pertama. Pekan lalu, perusahaan yang berbasis di Cupertino itu juga mengumumkan bantuan serupa untuk korban gempa bumi di Indonesia. Dalam beberapa bulan terakhir, Apple juga tercatat menyumbang untuk tanggap darurat di Venezuela, Eropa Selatan, dan Jepang.
Di luar kontribusi korporasi untuk bencana alam, Apple juga menjalankan inisiatif bernama Employee Giving. Lewat program ini, perusahaan mencocokkan donasi yang diberikan karyawannya dengan jumlah yang sama.
Hingga saat ini, total dana yang terkumpul dari skema tersebut telah melampaui angka USD 880 juta (sekitar Rp 14,5 triliun). Angka ini menunjukkan konsistensi Apple dalam membangun budaya filantropi di lingkungan internal perusahaannya.
Fokus Apple pada bencana di kawasan Asia Tenggara memang tengah meningkat. Setelah gempa yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, perusahaan teknologi ini langsung merespons dengan janji donasi untuk meringankan beban korban.
Langkah serupa juga dilakukan untuk bencana di berbagai belahan dunia lain. Pola tanggap darurat yang cepat ini menjadi semacam standar bagi perusahaan teknologi besar ketika terjadi tragedi kemanusiaan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada rincian nominal pasti yang akan disumbangkan Apple untuk kasus Nepal dan Tibet. Namun, komitmen dari pucuk pimpinan perusahaan menjadi sinyal bahwa bantuan akan segera direalisasikan dalam waktu dekat.