JAKARTA — Kunjungan silaturahmi yang dilakukan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian ke Penang, Malaysia, untuk menjenguk Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud bukan sekadar seremoni kenegaraan. Safrizal ZA, Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri yang juga menjabat Kepala Poskowil Satgas PRR Aceh, menyebut kunjungan itu sarat makna karena membawa pesan pribadi dari Presiden Prabowo Subianto.
“Doa presiden yang disampaikan Mendagri bukan sekadar simbol, melainkan tanda kasih negara bagi Aceh. Kehadiran ini menunjukkan bahwa pemerintah pusat selalu hadir dalam suka dan duka masyarakat,” ujarnya, Kamis (27/8/2026).
Pesan Moral di Balik Silaturahmi ke Penang
Menurut Safrizal, perhatian Presiden Prabowo terhadap kondisi kesehatan Wali Nanggroe menunjukkan bahwa hubungan antara pemerintah pusat dan tokoh-tokoh Aceh memiliki makna historis sekaligus moral. Hal ini dinilai penting dalam menjaga perdamaian pasca Nota Kesepahaman Helsinki.
“Negara hadir bukan hanya melalui kebijakan, tetapi juga lewat doa dan kepedulian. Inilah makna silaturahmi yang harus kita rawat bersama. Kehadiran Mendagri membawa doa presiden adalah pesan bahwa Aceh tetap menjadi bagian penting dalam hati bangsa,” tegasnya.
Doa Jadi Energi Moral bagi Wali Nanggroe dan Masyarakat Aceh
Safrizal berharap kunjungan tersebut tidak hanya memberi semangat bagi Malik Mahmud, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Aceh. Ia meyakini doa yang disampaikan memiliki kekuatan moral yang besar di tengah proses pemulihan kesehatan Wali Nanggroe.
“Doa adalah energi moral yang menguatkan. Semoga Wali Nanggroe segera pulih, dan silaturahmi ini menjadi pengikat kebersamaan kita,” tutupnya.