ACEH — Keputusan itu diumumkan resmi oleh Astra International pada Senin (31/8) di tengah tekanan penjualan ritel yang dialami industri otomotif nasional. Skema yang dipakai adalah Voluntary Tender Offer alias Penawaran Tender Sukarela. Melalui mekanisme ini, ASII berencana menyerap sebanyak-banyaknya 238.442.293 lembar saham AUTO.
Dengan harga penawaran Rp 3.600 per saham, total dana yang disiapkan Astra untuk aksi korporasi ini mencapai sekitar Rp 858,39 miliar. Jumlah tersebut setara dengan 4,947% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh di Astra Otoparts. Setelah transaksi ini tuntas, porsi saham ASII di AUTO dipastikan kian dominan.
Langkah ini terbilang agresif. Bukan hanya sekadar menjaga struktur kepemilikan, tetapi juga sebagai sinyal bahwa Astra ingin memperkuat lini bisnis komponen di tengah pasar yang sedang menantang.
Aksi korporasi ini muncul di saat penjualan otomotif nasional sedang mengalami koreksi. Segmen roda empat yang selama ini menjadi lumbung pendapatan ASII memang tengah dihantam pelemahan permintaan. Alih-alih mengurangi ekspansi, Astra justru memilih mengkonsolidasi anak usahanya.
Analis melihat penguatan posisi di AUTO merupakan langkah defensif. Dengan menguasai lebih banyak saham komponen, Astra bisa lebih leluasa mengatur efisiensi biaya produksi di tengah tekanan harga. Hal ini juga memberi fleksibilitas lebih besar ketika pasar kembali pulih.
Bagi pemegang saham AUTO, penawaran ini memberikan opsi likuiditas dengan harga premium. Keputusan untuk menjual saham ke Astra tentu kembali ke masing-masing investor. Namun, kepastian harga di tengah pasar yang volatil cenderung menjadi alternatif yang menarik dibandingkan menahan risiko fluktuasi.