RSUDZA Banda Aceh Gelar Workshop Endoskopi dengan Pakar Malaysia, Targetkan Pasien Tak Perlu Berobat ke Luar Negeri

Penulis: Yasir  •  Sabtu, 05 September 2026 | 11:46:31 WIB
Dokter spesialis penyakit dalam dari Aceh dan Sumatera Utara mengikuti ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026 di RSUDZA Banda Aceh.

BANDA ACEH — Sebanyak 20 dokter spesialis penyakit dalam dari Aceh dan Sumatera Utara mengikuti ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026 di Instalasi Endoskopi, Hepatologi dan Bronkoskopi RSUDZA. Mereka terdiri atas 16 dokter dari berbagai kabupaten/kota di Aceh dan empat dokter spesialis dari Sumatera Utara.

Workshop yang digelar bersama PGI-PPHI-PEGI Cabang Aceh ini menghadirkan Dr. Chiam Keng Hoong dari Pantai Hospital Penang, Malaysia. Dari dalam negeri, turut hadir Dr. dr. Hasan Maulahela, Sp.PD-KGEH, FACG, FASGE dari RS Cipto Mangunkusumo serta dua pakar lokal RSUDZA, yakni Dr. dr. Fauzi Yusuf dan Dr. dr. Azzaki Abubakar.

Empat Materi Utama: Dari Upper GI hingga ERCP

Kepala Instalasi Endoskopi dan Hepatologi RSUDZA, Dr. dr. Azzaki Abubakar, mengatakan perkembangan teknologi endoskopi menuntut dokter menguasai keseluruhan proses pelayanan, bukan sekadar teknik tindakan. Menurutnya, pemilihan dan persiapan pasien hingga pemantauan pascaprosedur sama pentingnya dengan prosedur itu sendiri.

“Endoskopi bukan hanya alat, tapi seni dan sains. Workshop ini kita rancang untuk membahas tuntas mulai dari Upper GI, Lower GI, hingga ERCP dan teknologi terkini NBI Classification agar teman-teman sejawat memiliki bekal yang paripurna,” ujar Azzaki.

Empat bidang utama yang dibahas dalam kegiatan ini meliputi Upper GI Endoscopy, Lower GI Endoscopy, Image Enhanced Endoscopy (IEE) dan NBI Classification, serta Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP).

Teknologi NBI untuk Deteksi Dini Kelainan Saluran Cerna

Teknologi NBI menjadi salah satu materi yang paling disorot dalam workshop ini. Kemampuan tersebut memungkinkan dokter melihat pola permukaan mukosa dan pembuluh darah secara lebih jelas, sehingga dapat mendukung karakterisasi lesi dan membantu proses deteksi dini kelainan pada saluran cerna.

Selain aspek diagnostik, peserta juga mendapat penguatan mengenai ERCP. Prosedur endoskopi terapeutik ini membutuhkan keterampilan khusus karena berkaitan erat dengan sistem bilier dan pankreas.

Investasi SDM untuk Kurangi Rujukan ke Luar Aceh

Workshop secara resmi dibuka oleh Wakil Direktur Penunjang RSUDZA, dr. Muhammad Fuad, Sp.PD-KHOM, mewakili Direktur RSUDZA. Ia menilai kehadiran pakar internasional dalam kegiatan ini merupakan bagian dari investasi peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang gastroenterologi.

“Dengan peningkatan kompetensi dokter-dokter kita, masyarakat Aceh tidak perlu lagi berobat jauh-jauh ke luar daerah atau luar negeri untuk mendapatkan layanan endoskopi terbaik. Semua bisa kita lakukan di RSUDZA,” katanya.

Langkah ini sejalan dengan upaya RSUDZA memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pengembangan layanan gastroenterologi dan endoskopi di kawasan barat Indonesia. Pertukaran pengetahuan dengan praktisi dari pusat layanan gastroenterologi regional menjadi agenda rutin yang terus didorong rumah sakit tersebut.

Reporter: Yasir
Sumber: waspada.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top