ACEH — Bantahan keras datang dari TGB Muhammad Zainul Majdi. Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat itu menegaskan dirinya tidak pernah mengirimkan naskah untuk buku yang membahas praktik keislaman Presiden Prabowo Subianto tersebut. Padahal, namanya tercantum pada halaman 241 sebagai penulis artikel berjudul "Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan".
"Saya tidak pernah kirim tulisan," kata TGB saat menjawab pertanyaan seorang pengguna media sosial, belum lama ini.
Pernyataan tegas ini pun memicu pertanyaan publik. Bagaimana mungkin sebuah nama tokoh dicantumkan sebagai kontributor tanpa sepengetahuan dan persetujuan yang bersangkutan?
Persoalan serupa menimpa Gus Kautsar. Keberatan justru disampaikan oleh sang istri, Ning Jazil, melalui media sosial. Ia mempertanyakan proses pencantuman nama suaminya yang dinilai tidak prosedural.
"Kok bisa ada nama suami saya?? pdhl gus kautsar tidak pernah menulis itu, kok bisa penulis tidak izin dulu kalau mau menyertakan nama suami saya di buku itu," tulis Ning Jazil.
Ning Jazil menjelaskan, Gus Kautsar memang pernah menerima kunjungan dari penulis buku. Namun, pertemuan tersebut berlangsung layaknya silaturahmi biasa, bukan sesi wawancara resmi untuk sebuah proyek penerbitan.
Dalam kesempatan itu, Gus Kautsar hanya menyampaikan harapan dan doa untuk pemimpin bangsa. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa percakapan tersebut akan didokumentasikan dan dikutip sebagai bagian dari isi buku.
"Maaf, Penulis harusnya terus terang saat wawancara kl akan dibuat buku dg judul tsb," tegas Ning Jazil dalam unggahannya.
Kasus ini menyorot celah etika dalam proses produksi buku, khususnya yang melibatkan tokoh publik. Pencantuman nama tanpa izin eksplisit berpotensi melanggar hak moral penulis sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Hak Cipta.
Hak moral adalah hak yang melekat pada diri pencipta untuk dicantumkan atau tidak dicantumkan namanya pada salinan sehubungan dengan penggunaan ciptaannya. Publikasi tanpa persetujuan dapat dianggap merugikan reputasi dan integritas tokoh yang namanya dipakai.
Hingga berita ini diturunkan, baik TGB maupun pihak Gus Kautsar sama-sama menegaskan tidak pernah menyerahkan materi tulisan untuk buku Islam Ala Prabowo. Redaksi telah mencoba menghubungi penerbit untuk meminta konfirmasi, namun belum mendapat respons hingga artikel ini diterbitkan.