BANDA ACEH — Pertukaran gagasan antara mahasiswa FISIP USK dan rombongan mahasiswa Turki berlangsung hangat. Acara yang digelar di Banda Aceh itu tidak hanya membahas perbedaan sistem akademik, tetapi juga menelusuri jejak sejarah panjang yang menghubungkan Aceh dan Turki.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan (KAK) FISIP USK, Dr. Masrizal, S.Sos.I., M.A., membuka kegiatan tersebut mewakili Dekan FISIP USK, Dr. Hamdani, M.Syam., M.A., yang berhalangan hadir. Masrizal menyampaikan salam dari dekan kepada seluruh peserta diskusi.
Ketua BEM FISIP USK, Hanip, menilai program yang mempertemukan mahasiswa dengan mitra internasional perlu terus digalakkan. Kegiatan ini menjadi ruang untuk membangun jejaring internasional sekaligus memperoleh pengalaman baru.
Menurut Hanip, acara tersebut relevan dengan keberadaan Program Studi Hubungan Internasional di FISIP USK. Karena itu, BEM turut menghadirkan mahasiswa baru prodi tersebut untuk mengikuti diskusi.
Perkenalan dari pihak mahasiswa Turki diawali oleh Yahya Uyar, Ketua Asosiasi Pemuda Internasional atau Uluslararasi Genc Dernegi yang tengah menempuh pendidikan pascasarjana di Ankara Sosyal Bilimler Universitesi. Ia menekankan pentingnya membangun kolaborasi antara mahasiswa Aceh dan Turki.
Menurut Yahya, Aceh dan Turki memiliki sejarah panjang yang menjadi salah satu alasan kedatangan mereka. Rombongan datang dengan membawa misi “Berbagi pengalaman, memperluas wawasan, dan membangun kolaborasi untuk masa depan.”
Selain Yahya, hadir pula Ali Akdag dan Mustafa Abdurahman, mahasiswa program sarjana Istanbul Medeniyet Universitesi, serta Yusuf Goncagul, seorang musisi asal Turki. Pertemuan ini difasilitasi Darlis, alumni FISIP USK yang kini menjabat Ketua Umum PAKAT Aceh.
Kegiatan ditutup dengan penampilan musik. Mahasiswa Turki membawakan lagu “Gundus Gece” dengan iringan gitar, sementara mahasiswa FISIP USK membawakan lagu “Bungong Jeumpa”. Acara diakhiri dengan foto bersama antara mahasiswa, pimpinan fakultas, pengurus BEM, serta pihak yang terlibat.
Masrizal berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan. Pertukaran pengalaman ini dinilai mampu membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal sistem pendidikan, kehidupan mahasiswa, budaya, hingga pengalaman akademik di masing-masing negara.