ACEH — Nilai tukar rupiah dibuka turun 0,28 persen atau 50 poin ke level Rp17.746 per dolar AS, melanjutkan pelemahan setelah The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga. Posisi itu lebih lemah dari penutupan Rabu di Rp17.696 per dolar AS. Pelaku pasar kini menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur pekan ini.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah terpantau merosot ke Rp17.746 per dolar AS pada pembukaan perdagangan, Kamis (17/9/2026). Pelemahan terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga pada Kamis dinihari waktu Indonesia. Indeks dolar AS kembali menembus level 100, tepatnya di kisaran 100,31-100,33.
Kenaikan suku bunga The Fed turut mendorong imbal hasil obligasi AS tenor dua tahun ke level 4,74 persen dan tenor 10 tahun ke 5,02 persen. Analis Pasar Uang MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut.
"Pergerakan nilai tukar rupiah saat ini kami perkirakan masih rawan melemah terhadap dolar AS," kata Herditya.
Pelaku pasar menunggu kebijakan suku bunga Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung pekan ini. Herditya mencermati ada beberapa skenario yang mungkin diambil BI menghadapi kenaikan suku bunga The Fed.
"Kami mencermati ada beberapa skenario yang memungkinkan untuk BI menghadapi kenaikan suku bunga the Fed," ucapnya.
Menurut Herditya, BI berpeluang menaikkan suku bunga, namun langkah itu berisiko menekan likuiditas dan pasar. Pada skenario lain, BI dapat bermain pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk mendorong likuiditas masuk ke perbankan.
Di pasar domestik, imbal hasil Surat Berharga Pemerintah tenor 10 tahun justru turun ke 7,16 persen. Analis Pasar Uang Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, menilai nilai tukar rupiah masih stabil meski suku bunga global meningkat.
"Hal itu menunjukkan kondisi pasar domestik masih relatif stabil di tengah kondisi eksternal yang semakin menantang," ujar Jessica.
Jessica menilai risiko pelemahan rupiah lebih dalam tetap terbuka seiring kenaikan suku bunga di berbagai negara. Namun, penurunan imbal hasil SBN dalam negeri memberi sinyal bahwa pasar domestik belum tertekan sebesar yang dikhawatirkan.
Pelemahan rupiah ke level Rp17.746 per dolar AS membuat investor asing berpotensi menahan diri di pasar surat utang dan saham. Bagi pelaku usaha yang memiliki utang dalam dolar AS, biaya pembayaran bunga dan pokok berpotensi membengkak.
Importir bahan baku juga menghadapi tekanan biaya yang lebih tinggi jika pelemahan berlanjut. Sebaliknya, eksportir berbasis komoditas dapat menikmati daya saing harga yang lebih baik di pasar global.
Keputusan BI dalam RDG pekan ini menjadi penentu arah rupiah jangka pendek. Jika BI menahan suku bunga dan mengandalkan SRBI, pasar akan mencermati seberapa efektif instrumen itu menahan aliran modal keluar.