BRIN Petakan Arah Hanyut 8 Orang Hilang di Selat Sunda Lewat Model Arus Laut

Penulis: Ragil  •  Minggu, 20 September 2026 | 19:15:31 WIB

ACEH — Tim Ocean Climate Research Group BRIN memetakan kemungkinan arah hanyut delapan orang yang hilang di Selat Sunda pasca-erupsi Anak Krakatau melalui model transpor partikel Euler-Lagrangian. Simulasi ribuan partikel hipotetik itu memakai data arus laut, gelombang, dan angin untuk menyusun peta probabilitas wilayah pencarian. Hasilnya menunjukkan ketidakpastian titik awal 30 kilometer bisa melebar jadi 221–292 kilometer di posisi akhir.

Delapan orang hilang kontak di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026 saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Lima di antaranya berprofesi sebagai jurnalis foto. Tim Ocean Climate Research Group (OCRG), Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (Prima) BRIN, menjalankan kajian ilmiah untuk memperkirakan lintasan hanyut para korban.

Kajian dipimpin peneliti Prima BRIN Widodo Setiyo Pranowo. Pendekatannya memakai model transpor partikel Euler-Lagrangian, bukan pencarian visual biasa. Model ini menghitung pergerakan ribuan partikel hipotetik yang merepresentasikan manusia dengan berat badan tertentu dan mengenakan pelampung.

Mengapa Arus dan Gelombang Jadi Kunci

Widodo menilai dinamika arus dan gelombang menentukan arah serta kecepatan hanyut korban. Gelombang menyumbang dorongan signifikan terhadap total pergerakan di permukaan.

"Kecepatan hanyut yang dibangkitkan gelombang itu sekitar 40% dari total arus permukaan yang ada di lokasi itu. Jadi, kondisi arus seperti ini akan sangat penting bagi prediksi penyebaran korban," ujar Widodo dalam keterangan tertulis yang dikutip detikINET, Minggu (20/9/2026).

Simulasi memakai skenario berat badan 60–70 kilogram. Perhitungan juga memasukkan faktor leeway, yakni penyimpangan arah akibat bagian tubuh yang berada di atas permukaan air.

Dua Skenario, Dua Lintasan Berbeda

Perbedaan kecil pada koordinat lokasi hilang kontak berdampak besar pada hasil pemodelan. Selisih sekitar 30 kilometer di titik awal menghasilkan lintasan yang sangat berbeda.

"Hasil pemodelan menunjukkan pentingnya ketepatan informasi lokasi awal, atau versi koordinat lokasi hilang kontak yang berbeda sekitar 30 kilometer menghasilkan lintasan yang sangat berbeda," tutur Widodo.

Dalam satu skenario, partikel bergerak ke barat menyusuri pesisir Lampung. Skenario lain membawa partikel masuk ke arus pantai Samudra Hindia dan bergerak jauh ke arah barat laut.

"Ketidakpastian 30 kilometer pada titik awal berkembang menjadi sekitar 221 hingga 292 kilometer pada posisi akhir," ucapnya menambahkan.

Peta Probabilitas Melebar hingga Hari ke-14

Tim menjalankan delapan skenario dengan mengombinasikan perbedaan lokasi, waktu kejadian, dan dorongan angin. Hasil tiap skenario digabungkan lewat pendekatan ensembel menjadi peta probabilitas.

Area yang mencakup 95 persen kemungkinan posisi korban berkembang dari sekitar 2.700 kilometer persegi pada hari keenam menjadi lebih dari 10.500 kilometer persegi pada hari ke-14. Artinya, wilayah pencarian berpotensi membesar hampir empat kali lipat dalam delapan hari.

Widodo menekankan pemodelan hanyut perlu ditopang data lapangan dan informasi kelautan yang lengkap.

"Semua parameter atau kejadian di laut secara fisik memang harus dikumpulkan semua, mulai dari kondisi gelombang, kondisi arus, kemudian kondisi yang ada di angkasa termasuk angin dan citra satelit. Itu harus dikumpulkan untuk dianalisis dan dihubungkan dengan kondisi stabilitas kapal, kelaikan, dan muatannya," ungkapnya.

Keterbatasan Model dan Langkah Lanjutan

Tim OCRG BRIN menegaskan hasil pemodelan hanya alat bantu perencanaan, bukan penentu lokasi korban. Model masih memakai data angin yang diperkirakan dari tinggi gelombang, serta berasumsi korban tetap mengapung dengan pelampung. Hasil simulasi juga belum dapat diuji dengan temuan lapangan.

Kendati begitu, kajian ini menunjukkan potensi pemodelan laut untuk mendukung kesiapsiagaan pencarian dan pertolongan di perairan Indonesia.

"Kajian ini menunjukkan potensi pemodelan laut untuk mendukung kesiapsiagaan pencarian dan pertolongan di perairan Indonesia. Pengembangan protokol pemodelan hanyut, pemasangan pelampung berpenjejak satelit, model hidrodinamika beresolusi tinggi. Kemudian, pencatatan koordinat kejadian secara seragam dan terverifikasi menjadi langkah yang dapat dikembangkan lebih lanjut," pungkasnya.

Peta probabilitas ini bisa menjadi rujukan awal bagi tim SAR dalam menentukan prioritas area pencarian. Namun tanpa verifikasi lapangan dan pencatatan koordinat kejadian yang seragam, akurasi model masih menyisakan ruang ketidakpastian yang lebar.

Reporter: Ragil
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top